LAPORAN PENDAHULUAN
PRAKTIKUM FISIKA DASAR 1
I.IDENTITAS PRAKTIKAN
Nama : Muhammad Haris
NIM : 09071001022
Fakultas : Ilmu Komputer
Jurusan : Sistem Komputer
Kelompok : V
II.
JUDUL PERCOBAAN : Elastisitas (M4)
III.
TUJUAN PERCOBAAN
1.
Dapat memahami
penggunaan hukum Hooke mengenai alstisitas pegas dari bahan baja.
2.
Dapat
menentukan modulus Rigiditas suatu bahan dalam bentuk kawat.
IV. ALAT DAN BAHAN SERTA FUNGSINYA
1.
Mistar
Fungsi: untuk mengukur panjang
2.
Anak timbangan
Fungsi: untukmengukur berat beban
3.
Alat torsi
lengkap dengan timbangannya
Fungsi: sebagai alat yang digunakan untuk menimbang atau mengetahui berat
dari massa suatu benda/bahan
percobaan
4.
kawat yang
diuji
Fungsi: sebagai bahan yang digunakan untuk diuji dalam percobaan
5.
Jangka Sorong
Fungsi: untuk mengukur diameter kawat dan katrol
6.
Mikrometer
sekrup
Fungsi: untuk mengukur ketebalan benda.
V.
TEORI DASAR
Apabila pada sebuah pgas diberikan gaya
maka .perpanjangan pegas akan sebanding dengan gaya tersebut selama batas
elastisitasnya tidak dilampaui.
Menurut
Hooke :
F = k . x
Dimana:
F : Gaya yang diberikan
k :
Tetapan pegas
x : Pertambahan panjang pegas karena
gaya F
Grafik antara gaya F dan pertambahan
panjang x merupakan gaya lurus. Dengan
grafik ini harga k dapat dicari. Hukum Hooke juga berlaku untuk kawat yang
dipuntir.
T = k` . O
Dimana
:
T
: Gaya (berat beban) dikalikan dengan diameter katrol
O :
Sudut puntir (dalam radian)
Secara
teoritis,k` dapat dihitung seperti berikut :
k` = Gd`
32L
Dimana
:
G : Modulus Rigitas
d :
Diameter kawat
L : Panjang dua kawat yang menghasilkan
sudut puntir
1.
REGANGAN(STRAIN)
Yang
dimaksud dengan regangan adalah perubahan relatif dimensi atau
bentukbenda yang mengalami tegangan. Tiap jenis tegangan ada jenis regangannya
masing-masing.
Perhatikan
gambar berikut:










![]() |
Gambar diatas menggambarkan sebuah batang yang panjang aslinya lo dan
berubah menjadi panjang l apabila diujungnya dilakukan gaya tarik yang sama
besar dan berlawanan arah. Regangan akibat tarikan (tensile strain) pada batang
itu didefinisikan sebagai perbandingan pertambahan panjang terhadap panjang
awalnya.
Hal ini dapat diubah kebentuk persamaan :
Tegangan akibat tarikan = l-lo = l
lo lo
Perhatikan
gambar berikut:


































Gambar tersebut menggambarkan sifat
perubahan bentuk (deformasi) apabila terjadi tegangan tangensial terhadap
permukaan sebuah balok. Dalam gambar (a) bagian tangah balok yang bertegangan
balok yang bertegangan dan bagian tangah balok yang tidak bertegangan
(berimpit). Pada gambar (b) sisi (ad) dan sisi a`d` yang berimpit. Regangan yang
terjadi pada benda seperti gambar diatas disebut regangan luncur. Dan
didefinisikan sebagai perbandingan perubahan
sudut b terhadap dimensi melintang.
Regangan luncur =
2.
TEGANGAN(STREES)
Perhatikan gambar dibawah ini :
![]() |
![]() |
||||
![]() |








F F F
![]() |
![]() |
|||||||
![]() |
![]() |
|||||||
![]() |
||||||||
![]() |
||||||||
![]() |
||||||||
Gambar a
memperlihatkan sebuah batang yang memiliki penampang lintang uniform dan luas
A. Batang ini pada masing-masing ujungnya mengalami gaya tarik F yang sama
besarnya dan berlawanan arah. Maka dapat dikatakan bahwa batang tersebut dalam
keadaan bertegangan.
Pada
gambar b tampak bahwa tegangan atau ketegangan ditempat irisan itu
didefinisikan sebagai perbandingan besar gaya F terhadap luas penampang A.
Tegangan ini dapat dituliskan dengan persamaan :
Tegangan
= F
A
Perhatikan kembali gambar tersebut,gambar c menunjukkan irisan yang
arahnya sembarang dan diberi gaya F yang terdistribusu pada bidang A` yang
memiliki luas yang lebih besar dan arahnya tidak tegak lurus terhadap bidang.
Bila keseluruhan gaya tersebut dinyatakan dengan suatu vektor,maka vektor
tersebut dapat diuraikan menjadi komponen-komponen Fn terhadap bidang A`.
Perbandingan F1 terhadap bidang A` disebut tegangan tangensial pada irisan.
Pernyataan tersebut dapat diubah kedalam bentuk
persamaan :
Tegangan
normal = Fn
A`
Tegangan tangensial = Ft
A`
Perhatikan gambar berikut :
![]() |
![]() |
||||
![]() |








![]() |
![]() |
Gambar
diatas adalah gambar sebuah batang yang mengalami dorongan pada ujung-ujungnya
atau daspat juga dikatakan bahwa batang tersebut sedang berada dalam kompresi.
Benda tersebut juga mengalami tegangan,tetapi dalam hal ini tegangan tersebut
disebut tegangan kompresi.
3.MODULUS ELASTIK
Tegangan yang diperlukan untuk menghasilkan suatu regangan tertentu
tergantung pada sifat bahan yang mengalami tegangan tersebut. Perbandingan
antara teganagn terhadap regangan,atau regangan persatuan regangan disebut modulus
elastik. Semakin besar modulus elastik,maka semakin besar pula tegangan yang
diperlukasn untuk menghasilkan suatu regangan tertentu.
Definisi modulus luncur dapat juga dinyatakan dalam bentuk persamaan
sebagai berikut:
L = d Ft /
A = h . d Ft
Dx /h A dx
Dengan dx adalah pertambahan nilai x apabila gaya
luncur bertambah besar d di Ft.
4.KONSTANTA GAYA
Modulus
elastik yang memiliki banyak macam itu masing-masing merupakan besaran yang
menyatakan sifat elastik suatu bahan tertentu dan bukan menunjukan langsung
seberapa jauh sebuah batang kabel atau pegas yang terbuat dari bahan yang
bersangkutan mengalami perubahan akibat pengaruh beban.
Apabila persamaan modulus digunakan untuk mencari
nilai Fn maka akan diperoleh :
Fn = YA
. l
lo
dimana :
Fn = Gaya tarik
A = Luas
penampang
Y = Modulus
elastisitas
Lo = Panjang batang semula
Bila
YA/lo diganti dengan suatu konstanta k dan perpanjangan l diganti dengan x maka
akan diperoleh persamaan :
F =
k . x
Dimana :
F = Gaya tarik
k = konstanta
x = pertambahan panjang
Dengan kata lain dapat dikatakan bahwa besarnya nilai suatu pertambahan
panjang sebuah benda yang mengalami tarikan (dihitung dari panjang awalnya)
sebanding dengan besar gaya yang merenggangkannya. Pada awal mulanya Hukum
Hooke diungkapkan dalam bentuk persamaan tersebut sehingga tidak terdapat dasar
pengertian mengenai tegangan dan regangan.
Apabila sebuah pegas kawat uir diregangkan tegangan yang terdapat dalam
kawat tersebut maka akan praktis merupakan tegangan lunsur semata. Pertambahan
panjamg pegas itu sebagai keseluruhan berbanding lurus dengan besar gaya yang
menariknya. Maksudnya persamaan bentuk (F = k . x) itu dapat berlaku dimana
konstanta k bergantung pada modulus luncur kawat itu pada radiusnya,radius
ulir,dan jumlah ulurnya,pertambahan panjang awal.
Hal ini dapat dinyatakan dalam persamaan :
Regangan
terhadap tarikan = l – lo = l
lo lo
Percobaan
membuktikan bahwa sampai batas proposional tegangan memanjang menimbulkan
regangan yang besarnya sama. Tidak peduli apakah tegangan itu akibat regangan
/akibat kompresi. Oleh karena itu untuk bahan tertentu untuk bahan tertentu
perbandingan tegangan tarik terhadap regangan tarik sama juga dengan
perbandingan tegangan kompresi terhadap regangan kompresi.
Perbandingan ini disebut modulus regangan atau
modulus young (Y) yang besarnya :
Y = tegangan
tarik = tegangan kompresi
regangan tarik reganagn kompresi
= Fn/A = lo
. Fn
l/lo A . l
Jika
batas porposional belum terlampaui,perbandingan tegangan terhadap regangan
bernilai konstan. Oleh karena itu hukum Hooke sama maknanya dengan suatu
ungkapan bahwa dalam batas proposional,menurut elastik suatu bahan adalah tetap
atau konstan,serta bergantung pada sifat dan bahannya.
Jika gaya Fn bertambah besar sebesar di Fn,dan
sebagai akibatnya batang itu bertambah sebesar modulus regangan didefinisikan
sebagai berikut :
Y = d Fn /
A = l . d Fn
Dl / lo lo
dl
Penafsiran ini setara dengan pendefinisian modulus
disetiap titik sebagai kemiringan kurva dalam grafik tegangan regangan.
Modulus luncur l suatu bahan dalam daerah Hukum
Hooke didefinisikan sebagai perbandingan tegangan luncur dengan regangan luncur
yang dihasilkannya.
L = Tegangan luncur = Ft / A = h
. Ft
Regangan luncur x / h A dx
V. PROSEDUR PERCOBAAN
1. Pasang salah satu batang yang akan diuji pada alat
torsi yang tersedia.
2. atur jarak
kedua skala dan tempatkan jarum pada skala nol.
3. gantungkan
beban pada tali dan catat penyimpangan jarum pada masing-masing skala.
4. ulangi butir
3 dengan menambahkan beban berikutnya. Setelah semua anak timbangan
digantung,kurangi satu persatu,catat penyimpangannya.
5. ulangi butir
3 dan 4 dengan mengubah posisi puntiran (kiri atau kanan).
6. ukur jarak antara dua skala.
7. ukur jarak
diameter kawat dan diameter katrol.
8. ulangi butir
1 sampai 7 untuk jenis kawat lainnya.
VI. DATA HASIL PERCOBAAN
No
|
Susunan massa
|
Kanan S1
|
Kanan S2
|
Kiri S1
|
Kiri S2
|
1
2
3
4
5
6
7
8
9
|
M
m1+m2
m1+m2+m3
m1+m2+m3+m4
m1+m2+m3+m4+m5
m1+m2+m3+m4
m1+m2+m3
m1+m2
m
|
2
4
6
8
10
8
6
4
2
|
1
2
3
4
5
4
3
2
1
|
2
4
6
8
10
8
6
4
2
|
1
2
3
4
5
4
3
2
1
|
*katrol *kawat
k = 40 cm
panjang (l) = 64,4 cm
k = p . d *m1=m2=m3=m4=m5 = 0,5 kg
40 = 3,14 . d *jarak
antara 2 skala = 21 cm
d = 12,739 cm
*kawat
d = 4 + (5 x 0,05)
+ 0,24
= 4 + 0,25
+ 0,24
= 4,49 mm
VII. PENGOLAHAN DATA
I. Kuningan
a) diameter
katrol (D)
D =
12,89 cm
ΔD = ½ x
0,1 cm
=
0,05 cm
Nilai
terbaik = 12,89 ± 0,05 cm
Kesalahan
absolut = ± 0,05 cm
Kesalahan
relatif = ΔD/D x 100 % = 0,05/12,89 x 100 % = 0,38
%
b) diameter
kawat tembaga (d)
d =
4,58 mm
d =
½ x 0,01 mm
Nilai
terbaik = 4,58 ± 0,005 mm
Kesalahan absolut = ± 0,005
Kesalahan relatif = 0,005 x 100 % = 0,1 %
4,58
c) panjang
kawat (l)
l =
64,5 cm
Dl = ½ x 0,1 = 0,05 cm
Nilai
terbaik = 64,5 ± 0,05
Kesalahan absolut = ± 0,05 cm
Kesalahan relatif = 0,07 %
d) jarak
dua skala
l =
19,7 cm
Dl = 0,05 cm
Nilai
terbaik = 19,7 ± 0,05
Kesalahan absolut = ± 0,05 cm
Kesalahn relatif = 0,25 %
e)
Skala/sudut puntir
1. M
No
|
S1
|
S1-S1
|
1
2
3
4
|
3,5
3,5
4
4
|
0,2
0,2
0,3
0,3
|
å
|
15
|
1
|
S1 = 15/4
= 3,7
S = ¼ =
0,25
Nilai terbaik = 3,75 ± 0,25
Kesalahan absolut = ± 0,25
Kesalahan relatif = 6,7 %
No
|
S2
|
S2-S2
|
1
2
3
4
|
1,75
1,75
2
2
|
0,12
0,12
0,13
0,13
|
å
|
7,5
|
0,5
|
S2 = 7,5/4 = 1,87
S2-s2 = 0,5/4 = 0,117
Nilai terbaik = 1,87
± 0,117
Kesalahan absolut =
± 0,117
Kesalahan relatif = 6,2 %
2. m1+m2
No
|
S1
|
s1-s1
|
1
2
3
4
|
7,5
7,5
8
8
|
0,2
0,2
0,3
0,3
|
å
|
31
|
1
|
S2 = 31/4 = 7,7
S2-s2 = 1/4 = 0,25
Nilai terbaik = 7,7
± 0,25
Kesalahan absolut =
± 0,25
Kesalahan relatif = 3,24 %
No
|
S2
|
S2-S2
|
1
2
3
4
|
3,75
3,75
4
4
|
0,12
0,12
0,13
0,13
|
å
|
15,5
|
0,5
|
S2 = 15,5/4 = 3,87
S2-s2 = 0,5/4 = 0,125
Nilai terbaik = 3,87
± 0,125
Kesalahan absolut =
± 0,125
Kesalahan relatif = 3,22 %
3. m1+m2+m3
No
|
S1
|
S1-S1
|
1
2
3
4
|
11,5
11,5
12
12
|
0,2
0,2
0,3
0,3
|
å
|
47
|
1
|
S1 = 7,5/4 = 11,7
S1-s1 = 1/4 = 0,25
Nilai terbaik = 11,7
± 0,25
Kesalahan absolut =
± 0,25
Kesalahan relatif = 1,06 %
No
|
S2
|
s2-s2
|
1
2
3
4
|
5,75
5,75
6
6
|
0,12
0,12
0,13
0,13
|
å
|
23,5
|
0,5
|
S2 = 23,5/4 = 5,87
S2-s2 = 0,5/4 = 0,125
Nilai terbaik = 5,87
± 0,125
Kesalahan absolut =
± 0,25
Kesalahan relatif = 2,12 %
4. m1+m2+m3+m4
No
|
S1
|
s1-s1
|
1
2
3
4
|
15,5
15,5
16
16
|
0,2
0,2
0,3
0,3
|
å
|
63
|
1
|
S2 = 63/4 = 15,7
S2-s2 = 1/4 = 0,25
Nilai terbaik = 15,7
± 0,25
Kesalahan absolut =
± 0,25
Kesalahan relatif = 1,59 %
No
|
S2
|
S2-S2
|
1
2
3
4
|
7,75
7,75
8
8
|
0
0
0,25
0,25
|
å
|
31
|
0,5
|
S2 = 7,5/4 = 7,75
S2-s2 = 0,5/4 = 0,125
Nilai terbaik = 7,75
± 0,125
Kesalahan absolut =
± 0,125
Kesalahan relatif = 1,62 %
5. m1+m2+m3+m4+m5
5. m1+m2+m3+m4+m5
No
|
S1
|
s1-s1
|
1
2
|
19
19,5
|
0,25
0,25
|
å
|
38,5
|
0,5
|
S2 = 38,5/2 = 19,25
S2-s2 = 0,5/2 = 0,25
Nilai terbaik = 19,25 ± 0
Kesalahan absolut =
± 0
Kesalahan relatif = 0 %
No
|
S2
|
S2-S2
|
1
2
|
9,5
9,75
|
0,38
0,63
|
å
|
18,25
|
1,01
|
S2 = 18,25/2 = 9,12
S2-s2 = 1,01/2 = 0
Nilai terbaik = 9,12
± 0
Kesalahan absolut =
± 0
Kesalahan relatif = 0 %
2. Besi
a) diameter
katrol (D)
D =
12,73cm
ΔD = ½ x
0,1 cm
=
0,05 cm
Nilai
terbaik = 12,73± 0,05 cm
Kesalahan
absolut = ± 0,05 cm
Kesalahan relatif = ΔD/D x 100 % =
0,05/12,73 x 100 % = 0,39
%
b) diameter
kawat besi (d)
d =
4,49 mm
d =
½ x 0,01 mm
Nilai
terbaik = 4,49 ± 0,005 mm
Kesalahan absolut = ± 0,005
Kesalahan relatif = 0,005 x 100 % = 0,111 %
4,49
c) panjang
kawat (l)
l =
64,4 cm
Dl = ½ x 0,1 = 0,05 cm
Nilai
terbaik = 64,4 ± 0,05
Kesalahan absolut = ± 0,05 cm
Kesalahan relatif = 0,07 %
d) jarak
dua skala
l = 21
cm
Dl = 0,05 cm
Nilai
terbaik = 21 ± 0,05
Kesalahan absolut = ± 0,05 cm
Kesalahn
relatif = 0,23 %
e)
Skala/sudut puntir
1. M
No
|
S1
|
S1-S1
|
1
2
3
4
|
2
2
2
2
|
0
0
0
0
|
å
|
8
|
0
|
S1 = 8/4 =
2
S = 0
Nilai terbaik = 2 ± 0
Kesalahan absolut = ± 0
Kesalahan relatif = 0 %
No
|
S2
|
S2-S2
|
1
2
3
4
|
1
1
1
1
|
0
0
0
0
|
å
|
4
|
0
|
S2 = 4/4 = 1
S2-s2 = 0/4 = 0
Nilai terbaik = 1± 0
Kesalahan absolut =
± 0
Kesalahan relatif = 0 %
2. m1+m2
No
|
S1
|
s1-s1
|
1
2
3
4
|
4
4
4
4
|
0
0
0
0
|
å
|
16
|
0
|
S2 = 16/4 = 4
S2-s2 = 0/4 = 0
Nilai terbaik = 4
± 0
Kesalahan absolut =
± 0
Kesalahan relatif = 0 %
No
|
S2
|
S2-S2
|
1
2
3
4
|
2
2
2
2
|
0
0
0
0
|
å
|
8
|
0
|
S2 = 8/4 = 2
S2-s2 = 0/4 = 0
Nilai terbaik = 2 ± 0
Kesalahan absolut =
± 0
Kesalahan relatif = 0 %
3. m1+m2+m3
No
|
S1
|
S1-S1
|
1
2
3
4
|
6
6
6
6
|
0
0
0
0
|
å
|
24
|
0
|
S1 = 24/4 = 6
S1-s1 = 0/4 = 0
Nilai terbaik = 6
± 0
Kesalahan absolut =
± 0
Kesalahan relatif =0 %
No
|
S2
|
s2-s2
|
1
2
3
4
|
3
3
3
3
|
0
0
0
0
|
å
|
12
|
0
|
S2 = 12/4 = 3
S2-s2 = 0/4 = 0
Nilai terbaik = 3 ± 0
Kesalahan absolut =
± 0
Kesalahan relatif = 0 %
4. m1+m2+m3+m4
No
|
S1
|
s1-s1
|
1
2
3
4
|
8
8
8
8
|
0
0
0
0
|
å
|
32
|
0
|
S2 = 32/4 = 8
S2-s2 = 0/4 = 0
Nilai terbaik = 8
± 0
Kesalahan absolut =
± 0
Kesalahan relatif = 0 %
No
|
S2
|
S2-S2
|
1
2
3
4
|
4
4
4
4
|
0
0
0
0
|
å
|
16
|
0
|
S2 = 16/4 = 4
S2-s2 = 0/4 = 0
Nilai terbaik = 4
± 0
Kesalahan absolut =
± 0
Kesalahan relatif = 0 %
5. m1+m2+m3+m4+m5
No
|
S1
|
s1-s1
|
1
2
|
10
10
|
0
0
|
å
|
20
|
0
|
S2 = 20/2 = 10
S2-s2 = 0/2 = 0
Nilai terbaik = 10
± 0
Kesalahan absolut =
± 0
Kesalahan relatif = 0 %
No
|
S2
|
S2-S2
|
1
2
|
5
5
|
0
0
|
å
|
10
|
0
|
S2 = 10/2 = 5
S2-s2 = 0/2 = 0
Nilai terbaik = 5
± 0
Kesalahan absolut =
± 0
Kesalahan relatif = 0 %
VIII. PERTANYAAN DAN TUGAS
1. Gambarkan grafik antara T dan q dan carilah harga dari k` !!
Penyelesaian :
A. Kawat kuningan
*) m1
*) m1+m2
T1 = m1 . g .
r T1 = (m1+m2) . g
. r
= 0,5 .
9,8 . 0,064 = 1 . 9,8 .
0,064
= 0,313
Nm = 0,627 Nm
q1 = arc tan | s1-s2| q2 = arc tan |s1-s2|
L l
= arc tan
|3,7-1,87|
= arc tan |7,7-3,87|
19,7
19,7
= arc tan
0,295 = 0,092 rad = arc tan 0,194
= 0,092 rad
*) m1+m2+m3 *) m1+m2+m3+m4
T1 =
(m1+m2+m3) . g . r T1 =
(m1+m2+m3+m4) . g . r
= 1,5 .
9,8 . 0,064 = 2
. 9,8 . 0,064
= 0,94
Nm =
1,154 Nm
q1 = arc tan | s1-s2| q2 = arc tan |s1-s2|
L l
= arc tan
|11,7-5,87|
= arc tan |15,7-7,75|
19,7
19,7
= arc tan
0,295 = 0,287 rad = arc
tan 7,95= 1,44 rad
*) m1+m2+m3+m4+m5
T1 = (m1+m2+m3+m4+m5) . g . r
= 2,5 .
9,8 . 0,064
= 1,568
Nm
q1 = arc tan | s1-s2|
L
= arc tan
|19,25-9,12|
19,7
= arc tan
0,514= 0,474 rad
Tabel
No
|
X
|
y
|
xy
|
X2
|
1
2
3
4
5
|
0,092
0,191
0,287
1,440
0,474
|
0,313
0,627
0,940
1,254
1,568
|
0,028
0,119
0,269
1,805
0,743
|
0,008
0,036
0,082
2,073
0,224
|
å
|
2,484
|
4,702
|
2,964
|
2,423
|
åx = 2,484/5 = 0,496
åy = 4,702/5 = 0,940
åxy = 2,964/5 = 0,592
åx2 = 2,423/5 = 0,484
A = k` = nåxy - åx . åy
n(åx2)-( åx)2
= 5
. 0,592 – 0,496 . 0,94
5 . 0,484 – (0,496)2
= 2,494 = 1,147
2,174
B = åx2 . åy - åxy . åx
N (åx2) – (åx)2
= 0,484
. 0,94 – 0,592 . 0,496
5 .
0,484 – (0,496)2
= 0,161
= 0,074
2,174
Y = Ax +
B k` = 1,147
X = 1 → Y = 1,147 . 1 + 0,074 = 1,221
X = 2 → Y = 1,147 . 2 + 0,074 = 2,368
X = 3 → Y = 1,147 . 3 + 0,074 = 3,515
X = 4 → Y = 1,147 . 4 + 0,074 = 4,662
B. Kawat besi
*) m1 *) m1+m2
T1 = m1 . g .
r T1 = (m1+m2) . g
. r
= 0,5 .
9,8 . 0,063 = 1 . 9,8 .
0,063
= 0,308
Nm = 0,617 Nm
q1 = arc tan | s1-s2|
q2 = arc tan |s1-s2|
L l
= arc tan
|1-2| = arc tan |2-4|
21
21
= arc tan
0,04 = 0,039 rad = arc tan 0,095
= 0,094 rad
*) m1+m2+m3 *) m1+m2+m3+m4
T1 =
(m1+m2+m3) . g . r T1 =
(m1+m2+m3+m4) . g . r
= 1,5 .
9,8 . 0,063 = 2
. 9,8 . 0,063
= 0,926
Nm = 1,234 Nm
q1 = arc tan | s1-s2| q2 = arc tan |s1-s2|
L l
= arc tan
|3-6| = arc tan |4-8|
21
21
= arc tan
0,14 = 0,141 rad = arc
tan 0,19= 0,186 rad
*) m1+m2+m3+m4+m5
T1 = (m1+m2+m3+m4+m5) . g . r
= 2,5 .
9,8 . 0,063
= 1,543
Nm
q1 = arc tan | s1-s2|
L
= arc tan
|5-10|
21
= arc tan
0,27= 0,123 rad
Tabel
No
|
X
|
y
|
xy
|
X2
|
1
2
3
4
5
|
0,039
0,094
0,141
0,186
0,230
|
0,308
0,617
0,924
1,234
1,543
|
0,012
0,057
0,129
0,229
0,354
|
0,001
0,008
0,019
0,034
0,050
|
å
|
0,689
|
4,628
|
0,781
|
0,114
|
åx = 0,689/5 = 0,137
åy = 4,628/5 = 0,925
åxy = 0,781/5 = 0,156
åx2 = 0,114/5 = 0,022
A = k` = nåxy - åx . åy
n(åx2)-( åx)2
= 5
. 0,156 – 0,137 . 0,925
5 . 0,022 – (0,02)2
= 0,654 = 5,96
0,1096
B = åx2 . åy - åxy . åx
N (åx2) – (åx)2
= 0,0004
. 0,925 – 0,156 . 0,137
5 .
0,0004 – (0,137
= -0,021
= 0,155
-0,135
Y = Ax +
B k` = 5,96
X = 1 → Y = 5,96 . 1 + 0,155 = 6,115
X = 2 → Y = 5,96 . 2 + 0,155 = 12,075
X = 3 → Y = 5,96 . 3 + 0,155 = 18,035
X = 4 → Y = 5,96 . 4 + 0,155 = 23,995
X = 5 → Y = 5,96 . 4 + 0,155 = 29,995
Tabel dan grafik
2. cari g dan bandingkan dengan yang ada pada
handbook !!
Penyelesaian :
G = 32 . L
. k` L dan d dalam
satuan meter
D4
Untuk kuningan :
G = 32 .
6,45 . 5,96
(4,58 x 10-2)4
= 1230,14 = 2,795 x 108 dyne
440,009x 10-8
Untuk besi :
G = 32 .
6,44 . 1,147
(4,49
x 10-2)4
G = 236,37
= 0,581 x 108
406,429x10-8
Harga G kuningan pada handbook
G =
4,9208 x 10 13
Harga G besi pada handbook
G =
9,7522 x 10 13
IX. ANALISIS PERCOBAAN
Dari
hasil percobaan dapat dianalisis hakl-hal sebagai berikut :
1. sudut puntir besi lebih kecil daripada kuningan
untuk berat beban yang sama.
2. harga k besi lebih besar daripada kuningan.
3. harga modulus rigitas (G) besi lebih besar dari
kuningan. Harga modulus rigitas (G) yang didapat dari hasil percobaan ini menyimpang
dari harga modulus rigitas pada handbook. Hal ini mungkin disebabkan karena
beberapa faktor kesalahn seperti tersebut dibawah ini.
4. kemiringan grafik untuk besi lebih besar daripada
kuningan.
Percobaan ini dilakukan mempunyai tujuan agar praktikan
dapat
memahami penggunaan hukum Hooke mengenai elastisitas pegas dari bahan baja
serta dapat menentukan modulus rigiditas suatu bahan dalam bentuk kawat.
Pada percobaan ini digunakan alat-alat
seperti mistar,anak timbangan,alat torsi lengkap dengan timbangannya,kawat yang
diuji,jangka sorong dan mikrometer sekrup.
Mula-mula kita pasang salah satu
batang yang akan diuji pada alat torsi yang tersedia.kemudian atur jarak kedua
skala daan tempatkan jarum pada skala nol. Gantungkan beban pada tali dan catat
penyimpangan jarumpada masing-masing skala.Ulangi dengan menambahkan beban
berikutnya. Setelah anak timbangan digantung,kurangi satu persatu,catat juga
penyimpangannya. Ulangi kembali percobaan itudengan mengubah pososi puntiran
(kiri atau kanan). Setelah itu ukur jarak antara dua skala dan ukur jarak
diameter kawat dan diameter katrol. Percobaan diatas diulangi kembli untuk
jenis kawat yang lainnya.
Percabaan
yang telah dilakukan juga membuktikan bahwa sampai batas proposional tegangan
memanjang menimbulkan regangan yang besarnya sama,tidak peduli apakah tegangan
itu akibat regangan atau kompresi. Karena itu perbandingan tegangan tarik
terhadap regangan tarik,untuk bahan tertentu sama juga dengan perbandingan
tegangan kompresi terhadap regangan kompresi. Perbandingan ini disebut Modulus
regangan atau Modulus Young (Y).
X.
SUMBER KESALAHAN
1.
kekurang telitian si praktikan
dalam mengamati percobaan tersebut.
2.
kekurang telitian alat percobaan
karena terlalu sering digunakan dalam setiap percobaan.
3.
pembulatan angka desimal yang
kurang tepat dalam perhitungan yang telah dilakukan dalam percobaan.
4.
kesalahan praktikan dalam
memasangkan beban
5.
kurang tepatnya dalam membaca skala
pada jaru alat torsi.
XI.
KESIMPULAN
1.
elastisitas adalah ilmu yang
mempelajari tentang elastik.
2.
elastis merupakan sifat suatu benda
yang dapat kembali kekeadaannya semula.
3.
modulus rigitas adalah perbandingan
tegangan dan regangan untuk suatu bahan tertentu.
4.
harga modulus rigitas tidak akan
sama pada setiap bahan yang akan digunakan pada setiap praktikum.
5.
makin besar sudut puntir yang
didapat,maka akan semakin kecil harga modulus rigitasnya.
XII.
DAFTAR PUSTAKA
1. Tim Penyusun . 2005 . Petunjuk
Praktiksn Fisika Dasar . Indralaya : Universitas Sriwijaya
2. Kertiasa, N . 1994 . Fisika 3 untuk SMU Kelas
3 . Jakarta : Balai Pustaka
3. Tipler . 2001 . Fisika untuk Sains dan Teknik
(Terjemahan) . Jakarta : Erlangga
4. Sutrisno . 1984 . Seri Dasar Fisika Jilid 2 .
ITB Bandung.
bolavita, agen judi bola online, Judi bola, agen bola, bandar bola, casino online, agen casino, situs taruhan, judi online, agen bola terpercaya, judi bola online, Situs Judi Bola, taruhan bola, bola online
ReplyDeletebolavita merupakan Situs Judi bola online terpercaya di Indonesia. Bandar Bola resmi dan Agen Bola online dengan pasaran terlengkap dan pelayanan yang ramah selama 24 Jam
Boss Juga Bisa Kirim Via :
Wechat : Bolavita
WA : +6281377055002
Line : cs_bolavita
BBM PIN : BOLAVITA ( Huruf Semua )