PERMULAAN SAINS DI YUNANI
DISUSUN
OLEH:
• Eka
Lamar Syari (06111011006)
• Fitriani (06111011007)
• Hevi Wulandari (06111011010)
• Lini Windari (06111011018)
• Nurul R.A. (06111011042)
Fakultas Keguruan dan Ilmu PendidikanUniversitas Negeri Sriwijaya
2012
Permulaan Sains Zaman Yunani Kuno
Di dalam banyak literatur
menyebutkan bahwa periode Yunani merupakan tonggak awal berkembangnya
ilmu pengetahuan dalam sejarah peradaban umat manusia. Perkembangan ilmu ini
dilatarbelakangi dengan perubahan paradigma dan pola pikir yang berkembang saat
itu. Ilmu pada zaman Yunani abad ke 6-7 SM lahirlah filsafat yang dikenal
dengan the greek miracle. Dengan paradigma ini, ilmu pengetahuan berkembang
sangat pesat karena menjawab persoalan disekitarnya dengan rasio dan
meninggalkan kepercayaan terhadap mitologi atau tahayul yang irrasional.. Pada
tahap animisme, manusia menjelaskan. Ada beberapa faktor
yang sudah mendahului dan seakan-akan mempersiapkan lahirnya filsafat di Yunani
yaitu:
1. Mitologi Yunani Kuno
Pada bangsa Yunani,
seperti juga pada bangsa-bangsa sekitarnya, terdapat suatu mitologi yang kaya
serta luas. Mitologi ini dapat dianggap sebagai perintis yang mendahului
filsafat, karena mite-mite sudah merupakan percobaan untuk mengerti. Mite-mite
sudah memberi jawaban atas pertanyaan yang hidup dalam hati manusia: dari mana
dunia kita? Dari mana kejadian dalam alam? Apa sebab matahari terbit, lalu
terbenam lagi? Melalui mite-mite, manusia mencari keterangan tentang asal usul
alam semesta dan tentang kejadian-kejadian yang berlangsung di dalamnya. Mite
jenis pertama yang mencari keterangan tentang asal usul alam semesta sendiri
biasanya disebut mite kosmogonis, sedangkan mite jenis kedua yang mencari
keterangan tentang asal usul serta sifat kejadian dalam alam semesta disebut
mite kosmologis. Khusus pada bangsa Yunani ialah mereka mengadakan beberapa
usaha untuk menyusun mite-mite yang diceritakan oleh rakyat menjadi suatu
keseluruhan yang sistematis. Dalam usaha itu sudah tampaklah sifat rasional
bangsa Yunani. Karena dengan mencari suatu keseluruhan yang sistematis, mereka
sudah menyatakan keinginan untuk mengerti hubungan mite-mite satu sama lain dan
menyingkirkan mite yang tidak dapat dicocokkan dengan mite lain.
2. Puisi Homeros “Ilias dan Odysea”
Kedua karya puisi
Homeros yang masing-masing berjudul Ilias dan Odyssea mempunyai kedudukan
istimewa dalam kesusasteraan Yunani. Syair-syair dalam karya tersebut lama
sekali digunakan sebagai semacam buku pendidikan untuk rakyat Yunani. Pada
dialog yang bernama Foliteia, Plato mengatakan Homeros telah mendidik seluruh
Hellas. Karena puisi Homeros pun sangat digemari oleh rakyat untuk mengisi
waktu terluang dan serentak juga mempunyai nilai edukatif.
3. Pengaruh Ilmu Pengetahuan dari Timur
Kuno
Orang Yunani tentu
berutang budi kepada bangsa-bangsa lain dalam menerima beberapa unsur ilmu
pengetahuan dari mereka. Demikianlah ilmu ukur dan ilmu hitung sebagian berasal
dari Mesir dan Babylonia pasti ada pengaruhnya dalam perkembangan ilmu
astronomi di negeri Yunani. Namun, andil dari bangsa-bangsa lain dalam
perkembangan ilmu pengetahuan Yunani tidak boleh dilebih-lebihkan. Orang Yunani
telah mengolah unsur-unsur tadi atas cara yang tidak pernah disangka-sangka
oleh bangsa Mesir dan Babylonia. Baru pada bangsa Yunani ilmu pengetahuan
mendapat corak yang sungguh-sungguh ilmiah.
Pada zaman Pra Yunani Kuno di dunia ilmu pengetahuan dicirikan berdasarkan know how yang dilandasi pengalaman empiris. Di samping itu, kemampuan berhitung ditempuh dengan cara one-to one correspondency atau mapping process. Contoh cara menghitung hewan yang akan masuk dan ke luar kandang dengan kerikil. Namun pada masa ini manusia sudah mulai memperhatikan keadaan alam semesta sebagai suatu proses alam.
Pada zaman Pra Yunani Kuno di dunia ilmu pengetahuan dicirikan berdasarkan know how yang dilandasi pengalaman empiris. Di samping itu, kemampuan berhitung ditempuh dengan cara one-to one correspondency atau mapping process. Contoh cara menghitung hewan yang akan masuk dan ke luar kandang dengan kerikil. Namun pada masa ini manusia sudah mulai memperhatikan keadaan alam semesta sebagai suatu proses alam.
A. Zaman Yunani Kuno
Zaman Yunani Kuno dipandang
sebagai zaman keemasan filsafat, karena pada masa ini orang memiliki kebebasan
untuk mengungkapkan ide-ide atau pendapatnya. Yunani pada masa itu dianggap
sebagai gudang ilmu dan filsafat, karena Bangsa Yunani pada masa itu tidak lagi
mempercayai mitologi-mitologi. Bangsa Yunani juga tidak dapat menerima
pengalaman yang didasarkan pada sikap receptive attitude (sikap menerima begitu
saja), melainkan menumbuhkan sikap an inquiring attitude (suatu sikap yang
senang menyelidiki sesuatu secara kritis). Sikap belakangan inilah yang menjadi
cikal bakal tumbuhnya ilmu pengetahuan modern. Sikap kritis inilah menjadikan
bangsa Yunani tampil sebagai ahli pikir terkenal sepanjang masa.
Zaman Yunani Kuno meliputi zaman
filsafat pra-Socrates di Yunani. Tokoh-tokohnya dikenal dengan nama filsuf
pertama atau filsuf alam. Mereka mencari unsur induk (arche) yang dianggap asal
dari segala sesuatu.
Beberapa filsuf pada
masa itu antara lain :
— Thales
(624-548 SM),
Thales
adalah seorang filsuf yang mengawali sejarah filsafat
Barat pada abad ke-6 SM.
Sebelum Thales, pemikiran Yunani dikuasai cara berpikir mitologis dalam menjelaskan
segala sesuatu. Pemikiran Thales dianggap sebagai kegiatan berfilsafat pertama
karena mencoba menjelaskan dunia dan gejala-gejala di dalamnya tanpa bersandar
pada mitos melainkan pada rasio manusia. Ia juga dikenal sebagai salah seorang
dari Tujuh Orang Bijaksana
(dalam bahasa Yunani hoi hepta sophoi), yang oleh Aristoteles
diberi gelar 'filsuf yang pertama'. Selain sebagai filsuf, Thales juga dikenal
sebagai ahli geometri,
astronomi,
dan politik.
Bersama dengan Anaximandros dan Anaximenes,
Thales digolongkan ke dalam Mazhab
Miletos.
Thales tidak
meninggalkan bukti-bukti tertulis mengenai pemikiran filsafatnya. Pemikiran
Thales terutama didapatkan melalui tulisan Aristoteles tentang dirinya.
Aristoteles mengatakan bahwa Thales adalah orang yang pertama kali memikirkan
tentang asal mula terjadinya alam semesta. Karena itulah, Thales juga dianggap
sebagai perintis filsafat alam (natural philosophy).
Thales
(624-546 SM) lahir di kota Miletus yang merupakan tanah perantauan orang-orang
Yunani di Asia
Kecil. Situasi Miletos yang makmur memungkinkan orang-orang di sana untuk
mengisi waktu dengan berdiskusi dan berpikir tentang segala sesuatu. Hal itu
merupakan awal dari kegiatan berfilsafat sehingga tidak mengherankan bahwa para
filsuf Yunani pertama lahir di tempat ini.
Thales adalah
seorang saudagar yang sering berlayar ke Mesir. Di Mesir,
Thales mempelajari ilmu ukur dan membawanya ke Yunani. Ia dikatakan dapat
mengukur piramida
dari bayangannya saja. Selain itu, ia juga dapat mengukur jauhnya kapal di laut
dari pantai. Kemudian Thales menjadi terkenal setelah berhail memprediksi
terjadinya gerhana matahari pada tanggal 28 Mei tahun 585 SM. Thales dapat
melakukan prediksi tersebut karena ia mempelajari catatan-catatan astronomis
yang tersimpan di Babilonia sejak 747 SM.
Di dalam
bidang politik, Thales pernah menjadi penasihat militer dan teknik dari Raja
Krosus di Lydia.
Selain itu, ia juga pernah menjadi penasihat politik bagi dua belas kota Iona.
Pemikiran-Pemikiran Thales :
Air
sebagai Prinsip Dasar Segala Sesuatu
Thales menyatakan bahwa air adalah prinsip
dasar (dalam bahasa Yunani arche)
segala sesuatu. Air menjadi pangkal, pokok, dan dasar dari segala-galanya yang
ada di alam semesta. Berkat kekuatan dan daya kreatifnya sendiri, tanpa ada
sebab-sebab di luar dirinya, air mampu tampil dalam segala bentuk, bersifat
mantap, dan tak terbinasakan. Argumentasi Thales terhadap pandangan tersebut
adalah bagaimana bahan makanan semua makhluk hidup mengandung air dan bagaimana
semua makhluk hidup juga memerlukan air untuk hidup. Selain itu, air adalah zat
yang dapat berubah-ubah bentuk (padat, cair, dan gas) tanpa menjadi berkurang.
Selain itu, ia juga mengemukakan pandangan
bahwa bumi terletak di atas air. Bumi dipandang sebagai bahan yang satu kali
keluar dari laut dan kemudian terapung-apung di atasnya.
Pandangan
tentang Jiwa
Thales berpendapat bahwa segala sesuatu di
jagat raya memiliki jiwa. Jiwa tidak hanya terdapat di dalam benda hidup tetapi
juga benda mati. Teori tentang materi yang berjiwa ini disebut hylezoisme.
Argumentasi Thales didasarkan pada magnet yang dikatakan memiliki jiwa karena
mampu menggerakkan besi.
Teorema
Thales
Di dalam geometri, Thales dikenal karena
menyumbangkan apa yang disebut teorema Thales, kendati belum tentu seluruhnya
merupakan buah pikiran aslinya.[
Teorema Thales berisi sebagai berikut:
1.
Sebuah lingkaran terbagi dua sama besar
oleh diameternya.
2.
Sudut bagian dasar dari sebuah segitiga
samakaki adalah sama besar.
3.
Jika ada dua garis lurus bersilangan, maka
besar kedua sudut yang saling berlawanan akan sama.
4.
Sudut yang terdapat di dalam setengah
lingkaran adalah sudut siku-siku.
5.
Sebuah segitiga terbentuk bila bagian
dasarnya serta sudut-sudut yang bersinggungan dengan bagian dasar tersebut
telah ditentukan.
·
Anaximandros
Anaximandros
adalah seorang filsuf dari Mazhab
Miletos dan merupakan murid dari Thales.
Seperti Thales, dirinya dan Anaximenes
tergolong sebagai filsuf-filsuf dari Miletos yang menjadi perintis filsafat
Barat. Anaximandros adalah filsuf pertama yang
meninggalkan bukti tulisan berbentuk prosa. Akan tetapi, dari tulisan
Anaximandros hanya satu fragmen yang masih tersimpan hingga kini.
Menurut Apollodorus,
seorang penulis Yunani
kuno, Anaximandros (610-546 SM) telah berumur 63 tahun pada saat Olimpiade
ke-58 yang dilaksanakan tahun 547/546 SM. Karena itu, diperkirakan Anaximandros
lahir sekitar tahun 610 SM. Kemudian disebutkan pula bahwa Anaximandros
meninggal tidak lama setelah Olmpiade tersebut usai, sehingga waktu kematiannya
diperkirakan pada tahun 546 SM.
Menurut
tradisi Yunani kuno, Anaximandros memiliki jasa-jasa di dalam bidang astronomi
dan geografi. Misalnya saja, Anaximandros dikatakan sebagai orang yang pertama
kali membuat peta bumi. Usahanya dalam bidang geografi dapat dilihat ketika ia
memimpin ekspedisi dari Miletos untuk mendirikan kota perantauan baru ke Apollonia di Laut Hitam.
Selain itu, Anaximandros telah menemukan, atau mengadaptasi, suatu jam matahari
sederhana yang dinamakan gnomon. Ditambah lagi, ia mampu memprediksi
kapan terjadi gempa bumi. Kemudian ia juga menyelidiki fenomena-fenomena alam
seperti gerhana, petir, dan juga mengenai asal mula kehidupan, termasuk
asal-mula manusia. Kendati ia lebih muda 15 tahun dari Thales, namun ia
meninggal dua tahun sebelum gurunya itu.
Pemikiran-Pemikiran Anaximandros :
To Apeiron sebagai prinsip dasar segala sesuatu
Meskipun Anaximandros merupakan
murid Thales, namun ia menjadi terkenal justru karena mengkritik pandangan
gurunya mengenai air sebagai prinsip dasar (arche) segala sesuatu.
Menurutnya, bila air merupakan prinsip dasar segala sesuatu, maka seharusnya
air terdapat di dalam segala sesuatu, dan tidak ada lagi zat yang berlawanan
dengannya. Namun kenyataannya, air dan api saling berlawanan sehingga air
bukanlah zat yang ada di dalam segala sesuatu. Karena itu, Anaximandros berpendapat
bahwa tidak mungkin mencari prinsip dasar tersebut dari zat yang empiris.
Prinsip dasar itu haruslah pada sesuatu yang lebih mendalam dan tidak dapat
diamati oleh panca indera. Anaximandros mengatakan bahwa prinsip dasar segala
sesuatu adalah to apeiron.
To apeiron berasal
dari bahasa Yunani a=tidak dan eras=batas. Ia
merupakan suatu prinsip abstrak yang menjadi prinsip dasar segala sesuatu. Ia
bersifat ilahi, abadi, tak terubahkan, dan meliputi segala sesuatu. Dari
prinsip inilah berasal segala sesuatu yang ada di dalam jagad raya sebagai
unsur-unsur yang berlawanan (yang panas dan dingin, yang kering dan yang basah,
malam dan terang). Kemudian kepada prinsip ini juga semua pada akhirnya akan
kembali.
Pandangan tentang Alam Semesta
Dengan prinsip to apeiron,
Anaximandros membangun pandangannya tentang alam semesta. Menurut Anaximandros,
dari to apeiron berasal segala sesuatu yang berlawanan, yang terus
berperang satu sama lain. Yang panas membalut yang dingin sehingga yang dingin
itu terkandung di dalamnya. Dari yang dingin itu terjadilah yang cair dan beku.
Yang beku inilah yang kemudian menjadi bumi. Api yang membalut yang dingin itu
kemudian terpecah-pecah pula. Pecahan-pecahan tersebut berputar-putar kemudian
terpisah-pisah sehingga terciptalah matahari, bulan, dan bintang-bintang. Bumi
dikatakan berbentuk silinder, yang lebarnya tiga kali lebih besar dari
tingginya. Bumi tidak jatuh karena kedudukannya berada pada pusat jagad raya,
dengan jarak yang sama dengan semua benda lain.
Mengenai bumi, Thales telah
menjelaskan bahwa bumi melayang di atas lautan. Akan tetapi, perlu dijelaskan
pula mengenai asal mula lautan. Anaximandros menyatakan bahwa bumi pada awalnya
dibalut oleh udara yang basah. Karena berputar terus-menerus, maka
berangsur-angsur bumi menjadi kering. Akhirnya, tinggalah udara yang basah itu
sebagai laut pada bumi.
Pandangan tentang Makhluk Hidup
Mengenai
terjadinya makhluk hidup di bumi, Anaximandros berpendapat bahwa pada awalnya
bumi diliputi air semata-mata. Karena itu, makhluk hidup pertama yang ada di
bumi adalah hewan yang hidup dalam air, misalnya makhluk seperti ikan. Karena
panas yang ada di sekitar bumi, ada laut yang mengering dan menjadi daratan. Di
ditulah, mulai ada makhluk-makhluk lain yang naik ke daratan dan mulai
berkembang di darat. Ia berargumentasi bahwa tidak mungkin manusia yang menjadi
makhluk pertama yang hidup di darat sebab bayi manusia memerlukan asuhan orang
lain pada fase awal kehidupannya. Karena itu, pastilah makhluk pertama yang
naik ke darat adalah sejenis ikan yang beradaptasi di daratan dan kemudian
menjadi manusia.
— Anaximenes
(590-528 SM)
Anaximenes adalah seorang filsuf
yang berasal dari kota Miletos, sama seperti Thales dan Anaximandros. Anaximenes hidup
sezaman dengan kedua filsuf tersebut, kendati ia lebih muda dari Anaximandros.
Ia disebut di dalam tradisi filsafat Barat, bersama dengan Thales
dan Anaximandros, sebagai anggota Mazhab Miletos. Anaximenes adalah
teman, murid, dan pengganti dari Anaximandros. Sebagaimana kedua filsuf Miletos
yang lain, ia berbicara tentang filsafat alam, yakni apa yang menjadi prinsip
dasar (arche) segala sesuatu.
Tentang
riwayat hidupnya, tidak banyak yang diketahui. Anaximenes mulai terkenal
sekitar tahun 545 SM, sedangkan tahun kematiannya diperkirakan sekitar tahun
528/526 SM.]
Ia diketahui lebih muda dari Anaximandros. Ia menulis satu buku, dan dari buku
tersebut hanya satu fragmen yang masih tersimpan hingga kini.
Pemikiran-Pemikiran
Anaximenes :
Udara
sebagai prinsip dasar segala sesuatu
Salah satu kesulitan
untuk menerima filsafat Anaximandros tentang to apeiron yang metafisik
adalah bagaimana menjelaskan hubungan saling memengaruhi antara yang metafisik
dengan yang fisik. Karena itulah, Anaximenes tidak lagi melihat sesuatu yang
metafisik sebagai prinsip dasar segala sesuatu, melainkan kembali pada zat yang
bersifat fisik yakni udara.
Tidak seperti air yang
tidak terdapat di api (pemikiran Thales), udara merupakan zat yang terdapat di
dalam semua hal, baik air, api, manusia, maupun segala sesuatu. Karena itu,
Anaximenes berpendapat bahwa udara adalah prinsip dasar segala sesuatu. Udara
adalah zat yang menyebabkan seluruh benda muncul, telah muncul, atau akan
muncul sebagai bentuk lain. Perubahan-perubahan tersebut berproses dengan
prinsip "pemadatan dan pengenceran" (condensation and rarefaction.
Bila udara bertambah kepadatannya maka muncullah berturut-turut angin, air,
tanah, dan kemudian batu. Sebaliknya, bila udara mengalami pengenceran, maka
yang timbul adalah api. Proses pemadatan dan pengenceran tersebut meliputi
seluruh kejadian alam, sebagaimana air dapat berubah menjadi es dan uap, dan
bagaimana seluruh substansi lain dibentuk dari kombinasi perubahan udara.
Tentang
Alam Semesta
Pembentukan alam
semesta menurut Anaximenes adalah dari proses pemadatan dan pengenceran udara
yang membentuk air, tanah, batu, dan sebagainya. Bumi, menurut Anaximenes,
berbentuk datar, luas, dan tipis, hampir seperti sebuah meja. Bumi dikatakan
melayang di udara sebagaimana daun melayang di udara. Benda-benda langit
seperti bulan, bintang, dan matahari juga melayang di udara dan mengelilingi
bumi. Benda-benda langit tersebut merupakan api yang berada di langit, yang
muncul karena pernapasan basah dari bumi. Bintang-bintang tidak memproduksi
panas karena jaraknya yang jauh dari bumi. Ketika bintang, bulan, dan matahari
tidak terlihat pada waktu malam, itu disebabkan mereka tersembunyi di belakang
bagian-bagian tinggi dari bumi ketika mereka mengitari bumi. Kemudian
awan-awan, hujan, salju, dan fenomena alam lainnya terjadi karena pemadatan
udara.
Tentang
Jiwa
Jiwa manusia dipandang
sebagai kumpulan udara saja. Buktinya, manusia perlu bernapas untuk
mempertahankan hidupnya. Jiwa adalah yang mengontrol tubuh dan menjaga segala
sesuatu pada tubuh manusia bergerak sesuai dengan yang seharusnya. Karena itu,
untuk menjaga kelangsungan jiwa dan tubuh. Di sini, Anaximenes mengemukakan
persamaan antara tubuh manusiawi dengan jagat raya berdasarkan kesatuan prinsip
dasar yang sama, yakni udara. Tema tubuh sebagai mikrokosmos (jagat raya kecil)
yang mencerminkan jagat raya sebagai makrokosmos adalah tema yang akan sering
dibicarakan di dalam Filsafat Yunani. Akan tetapi,
Anaximenes belum menggunakan istilah-istilah tersebut di dalam pemikiran
filsafatnya.
— Phytagoras (532 SM),
Pythagoras
(582 SM – 496 SM, bahasa
Yunani: Πυθαγόρας) adalah seorang matematikawan
dan filsuf Yunani yang paling
dikenal melalui teoremanya.
Dikenal
sebagai "Bapak Bilangan", dia memberikan sumbangan yang penting
terhadap filsafat dan ajaran keagamaan pada akhir abad ke-6
SM. Kehidupan dan ajarannya tidak begitu jelas akibat banyaknya legenda dan
kisah-kisah buatan mengenai dirinya.
Phytagoras
berusaha menemukan kunci bagi harmoni universal, baik yang bersifat alamiah
maupun sosial, dan personalitas bilangan. Ia berpendapat bahwa bilangan adalah
unsur utama alam dan sekaligus menjadi ukuran. Unsur-unsur bilangan itu adalah
genap dan ganjil, terbatas dan tidak terbatas. Jasa Phytagoras sangat besar
dalam pengembangan ilmu, terutama ilmu pasti dan ilmu alam. Ilmu yang
dikembangkan kemudian hari sampai hari ini sangat bergantung pada pendekatan
matematika.
Salah satu
peninggalan Pythagoras yang terkenal adalah teorema Pythagoras, yang menyatakan bahwa
kuadrat hipotenusa
dari suatu segitiga siku-siku
adalah sama dengan jumlah kuadrat dari kaki-kakinya (sisi-sisi siku-sikunya).
Walaupun fakta di dalam
teorema ini telah banyak diketahui sebelum lahirnya Pythagoras, namun
teorema ini dikreditkan kepada Pythagoras karena ia yang pertama kali
membuktikan pengamatan ini secara matematis.
Pythagoras
dan murid-muridnya percaya bahwa segala sesuatu di dunia ini berhubungan dengan
matematika,
dan merasa bahwa segalanya dapat diprediksikan dan diukur dalam siklus beritme. Ia percaya
keindahan matematika disebabkan segala fenomena alam
dapat dinyatakan dalam bilangan-bilangan atau perbandingan
bilangan. Terdapat legenda yang menyatakan bahwa ketika muridnya Hippasus menemukan
bahwa
, hipotenusa dari
segitiga siku-siku sama kaki dengan sisi
siku-siku masing-masing 1, adalah bilangan irasional, murid-murid Pythagoras
lainnya memutuskan untuk membunuhnya karena tidak dapat membantah bukti yang
diajukan Hippasus.

Dalam matematika,
teorema Pythagoras adalah suatu keterkaitan dalam geometri
Euklides antara tiga sisi sebuah segitiga
siku-siku. Teorema ini dinamakan menurut nama filsuf dan matematikawan
Yunani abad
ke-6 SM, Pythagoras. Pythagoras sering dianggap sebagai penemu teorema ini
meskipun sebenarnya fakta-fakta teorema ini sudah diketahui oleh matematikawan India (dalam
Sulbasutra Baudhayana dan Katyayana), Yunani, Tionghoa dan Babilonia
jauh sebelum Pythagoras lahir. Pythagoras mendapat kredit karena ialah yang
pertama membuktikan kebenaran universal
dari teorema ini melalui pembuktian matematis.
Ada dua
bukti kontemporer yang bisa dianggap sebagai catatan tertua mengenai teorema
Pythagoras: satu dapat ditemukan dalam Chou Pei Suan Ching (sekitar 500-200
SM), satunya lagi dalam buku Elemen
Euklides.
Teorema Pythagoras menyatakan
bahwa :
Jumlah luas bujur
sangkar pada kaki sebuah segitiga siku-siku sama dengan luas bujur sangkar di
hipotenus.
Sebuah segitiga siku-siku
adalah segitiga
yang mempunyai sebuah sudut siku-siku; kaki-nya adalah dua sisi
yang membentuk sudut siku-siku tersebut, dan hipotenus adalah sisi
ketiga yang berhadapan dengan sudut siku-siku tersebut. Pada gambar di bawah
ini, a dan b adalah kaki segitiga siku-siku dan c adalah
hipotenus:
Pythagoras
menyatakan teorema ini dalam gaya goemetris, sebagai pernyataan tentang luas bujur
sangkar:
Jumlah luas
bujur sangkar biru dan merah sama dengan luas bujur sangkar ungu. Akan halnya, Sulbasutra India juga
menyatakan bahwa:
Tali yang
direntangkan sepanjang panjang diagonal sebuah persegi panjang akan
menghasilkan luas yang dihasilkan sisi vertikal dan horisontalnya. Menggunakan aljabar, kita
dapat mengformulasikan ulang teorema tersebut ke dalam pernyataan modern dengan
mengambil catatan bahwa luas sebuah bujur sangkar adalah pangkat dua dari
panjang sisinya:
Jika sebuah
segitiga siku-siku mempunyai kaki dengan panjang a dan b dan
hipotenus dengan panjang c, maka a+ b' = c
— Herakleitos (535-475 SM)
Herakleitos
adalah seorang filsuf yang tidak tergolong mazhab apapun. Di dalam
tulisan-tulisannya,ia justru mengkritik dan mencela para filsuf dan tokoh-tokoh
terkenal, seperti Homerus,
Arkhilokhos, Hesiodos, Phythagoras, Xenophanes,
dan Hekataios. Meskipun ia berbalik
dari ajaran filsafat yang umum pada zamannya, namun bukan berarti ia sama
sekali tidak dipengaruhi oleh filsuf-filsuf itu.
Herakleitos
diketahui berasal dari Efesus di Asia Kecil. Ia hidup di sekitar abad ke-5 SM (540-480
SM). Ia hidup sezaman dengan Pythagoras dan Xenophanes, namun lebih muda
usianya dari mereka. Akan tetapi, Herakleitos lebih tua usianya dari Parmenides
sebab ia dikritik oleh filsuf tersebut.
Selain bahwa
ia berasal dari keluarga terhormat di Efesus, tidak ada informasi lain mengenai
riwayat hidupnya, sebab kebanyakan adalah cerita fiksi. Tidak ada sumber yang
menyebutkan bahwa ia pernah meninggalkan kota asalnya, yang pada waktu itu
merupakan bagian dari kekaisaran Persia.
Jika melihat
karya-karya yang ditinggalkannya, tampak bahwa watak Herakleitos sombong dan
tinggi hati. Selain mencela filsuf-filsuf di atas, ia juga memandang rendah
rakyat yang bodoh dan menegaskan bahwa kebanyakan manusia jahat. Selain itu, ia
juga mengutuk warga negara Efesus.
Pemikiran-Pemikiran Herakleitos :
Segala
Sesuatu Mengalir
Pemikiran Herakleitos yang paling terkenal
adalah mengenai perubahan-perubahan di alam semesta. Menurut Herakleitos, tidak
ada satu pun hal di alam semesta yang bersifat tetap atau permanen. Tidak ada
sesuatu yang betul-betul ada, semuanya berada di dalam proses menjadi.
Ia terkenal dengan ucapannya panta rhei kai uden menei yang berarti,
"semuanya mengalir dan tidak ada sesuatupun yang tinggal tetap."
Perubahan yang tidak ada henti-hentinya itu
dibayangkan Herakleitos dengan dua cara:
¶
Pertama, seluruh kenyataan adalah seperti
aliran sungai yang mengalir. "Engkau tidak dapat turun dua kali ke sungai
yang sama," demikian kata Herakleitos. Maksudnya di sini, air sungai
selalu bergerak sehingga tidak pernah seseorang turun di air sungai yang sama
dengan yang sebelumnya.
¶
Kedua, ia menggambarkan seluruh kenyataan
dengan api. Maksud api di sini lain dengan konsep mazhab Miletos yang menjadikan air
atau udara sebagai prinsip dasar segala sesuatu. Bagi Herakleitos, api bukanlah
zat yang dapat menerangkan perubahan-perubahan segala sesuatu, melainkan
melambangkan gerak perubahan itu sendiri. Api senantiasa mengubah apa saja yang
dibakarnya menjadi abu dan asap, namun api tetaplah api yang sama. Karena itu,
api cocok untuk melambangkan kesatuan dalam perubahan.
Logos
Segala sesuatu yang terus berubah di alam
semesta dapat berjalan dengan teratur karena adanya logos. Pandangan
tentang logos di sini tidak boleh disamakan begitu saja dengan konsep logos
pada mazhab Stoa. Logos adalah rasio yang menjadi
hukum yang menguasai segala-galanya dan menggerakkan segala sesuatu, termasuk manusia.
Logos juga dipahami sebagai sesuatu yang material, namun sekaligus
melampaui materi yang biasa. Hal ini disebabkan pada masa itu, belum ada filsuf
yang mampu memisahkan antara yang rohani dan yang materi.
Segala
Sesuatu Berlawanan
Menurut Herakleitos, tiap benda terdiri
dari yang berlawanan. Meskipun demikian, di dalam perlawanan tetap terdapat
kesatuan. Singkatnya, dapat dikatakan bahwa 'yang satu adalah banyak dan yang
banyak adalah satu. Anaximenes juga memiliki pandangan seperti ini, namun perbedaan
dengan Herakleitos adalah Anaximenes mengatakan pertentangan tersebut sebagai
ketidakadilan, sedangkan Herakleitos menyatakan bahwa pertentangan yang ada
adalah prinsip keadilan. Kita tidak akan bisa mengenal apa itu 'siang' tanpa
kita mengetahui apa itu 'malam'. Kita tidak akan mengetahui apa itu 'kehidupan'
tanpa adanya realitas 'kematian'. Kesehatan juga dihargai karena ada penyakit. Demikianlah
dari hubungan pertentangan seperti ini, segala sesuatu terjadi dan tersusun.
Herakleitos menegaskan prinsip ini di dalam kalimat yang terkenal: "Perang
adalah bapak segala sesuatu." Perang yang dimaksud di sini adalah
pertentangan.
Melalui ajaran tentang hal-hal yang
bertentangan tetapi disatukan oleh logos, Herakleitos disebut sebagai
filsuf dialektis yang pertama di dalam sejarah filsafat.
— Xenophanes
Xenophanes
dari Kolophon adalah seorang filsuf yang
termasuk ke dalam Mazhab Elea. Menurut tradisi filsafat Yunani, ia adalah
pendiri Mazhab Elea dan guru dari Parmenides.
Selain sebagai filsuf, ia terkenal sebagai seorang penyair. Pemikiran-pemikiran
filsafatnya disampaikan melalui puisi-puisi. Selain tema-tema filsafat, ia
menulis puisi dengan tema-tema tradisional, seperti cinta, perang, permainan,
dan sejarah. Ia juga berani mengkritik Homeros dan Hesiodos,
penyair Yunani
yang terkenal pada waktu itu.
Karya
filsafatnya dalam bentuk puisi telah hilang. Di masa kemudian, karya itu diberi
nama "Perihal Alam" (Concerning Nature).
Xenophanes
berasal dari Kolophon, Ionia, di Asia Kecil. Dikatakan di dalam salah satu fragmen
puisinya sendiri bahwa ia meninggalkan kota asalnya pada usia 25 tahun. Ia
meninggalkan kota tersebut setelah Kolophon direbut bangsa Persia pada tahun
545 SM. Dengan demikian ia lahir sekirar tahun 570 SM. Kemudian dikatakannya
pula bahwa ketika ia menulis puisi tersebut, ia telah berusia 67 tahun.
Diketahui Xenophanes berusia di atas 100 tahun, Karena itu, tahun kematiannya
diperkirakan sekitar tahun 480 SM.
Setelah
meninggalkan kota Kolophon, ia melakukan perjalanan ke banyak tempat. Ada
beberapa sumber kuno menyebutkan ia pernah menetap di kota Messina dan Katania di pulau Sisilia. Selain
itu, ia juga pernah singgah di Malta, Pharos, dan Syrakusa. Akhirnya ia tiba di Elea, Italia Selatan, dan
menetap di sana. Diketahui bahwa Xenophanes mengarang suatu syair ketika kota
Elea didirikan pada tahun 540 SM.
Pemikiran-Pemikiran Xenophanes :
Tentang Pengetahuan
Xenophanes
menyatakan bahwa manusia tidak dapat mendapatkan pengetahuan yang mutlak. Akan
tetapi, di saat yang sama, manusia harus mencari pengetahuan tersebut walaupun
hanya berupa suatu kemungkinan. Hal itu ditunjukkannya melalui dua fragmen
berikut:
"Dewa-dewi tidak
menyatakan segala sesuatu kepada manusia sejak awalnya, tetapi setelah waktu
berlalu, manusia menemukan banyak hal dengan cara mencarinya
sendiri."(fragmen 18).
"Tidak ada manusia
yang pernah melihat ataupun mengetahui kebenaran tentang dewa-dewi serta semua
hal yang kukatakan. Karena jika ada orang yang berkata mengetahui semuanya,
maka sebenarnya ia tidaklah tahu, melainkan hanya mempercayai tentang segala
sesuatu."(fragmen 34).
Fragmen 18
menunjukkan kemungkinan mencari pengetahuan melalui penelitian. Sedangkan
fragmen 34 menolak kemungkinan manusia mendapatkan pengetahuan yang mutlak,
setidaknya untuk hal-hal yang menurut Xenophanes sulit. Oleh karena itu, perlu
dibedakan antara kebenaran, pengetahuan, dan kepercayaan.
Tentang "Satu yang Meliputi Semua"
Xenophanes
menentang cara pandang orang Yunani pada waktu itu terhadap dewa-dewi. Ia
memberikan kritik terutama kepada Herodotos dan Hesiodos yang memberikan
pengaruh besar terhadap masyarakat Yunani. Menurut kedua penyair itu, dewa-dewi
melakukan pelbagai perbuatan yang memalukan, seperti pencurian, zinah, dan penipuan
satu sama lain. Di sini, Xenophanes membantah antropomorfisme
dewa-dewi, maksudnya penggambaran dewa-dewi dalam rupa manusia. Menurut
Xenophanes, manusia selalu menaruh sifat-sifat manusia kepada dewa-dewi sesuai
kehendak mereka. Misalnya saja, dewa-dewi dilahirkan sebab manusia juga
dilahirkan, dan bahwa dewa-dewi memakai pakaian, suara, dan rupa seperti
manusia. Xenophanes memberikan argumentasi sesuai bukti yang ia temukan:
"Seandainya sapi,
kuda, dan singa mempunyai tangan dan pandai menggambar seperti manusia,
tentunya kuda akan menggambarkan dewa-dewi menyerupai kuda, sapi akan
menggambarkan dewa-dewi menyerupai sapi, dan dengan demikian mereka akan
menggambarkan tubuh dewa-dewi serupa dengan tubuh mereka."
"Orang Etiopia
mempunyai dewa-dewi yang berkulit hitam dan berhidung pesek, sedangkan
orang-orang Thrake mengatakan bahwa dewa-dewi mereka bermata biru dan berambut
merah."
Xenophanes
dapat menyimpulkan bahwa antropomorfisme terhadap dewa-dewi tidaklah tepat
sebab ia telah melakukan perjalanan ke berbagai tempat dan melihat pelbagai
kepercayaan mereka. Karena itu, ia menjadi yakin bahwa semua itu bukanlah
konsep dewa-dewi yang tepat. Ia menyatakan bahwa sebenarnya hanya ada
"Satu yang meliputi Semua". Maksudnya di sini serupa dengan konsep
"Tuhan" namun tidak sama dengan monoteisme
sebab ia juga menyebutnya dalam bentuk jamak.
Menurut
Xenophanes, "yang Satu meliputi Semua" ini tidak dilahirkan dan tidak
memiliki akhir, artinya bersifat kekal. Hal ini berbeda dengan konsep dewa-dewi
yang dilahirkan dan dapat mati. Ia tidak menyerupai makhluk duniawi mana pun,
baik manusia ataupun binatang. Ia juga tidak memiliki organ seperti manusia,
namun mampu melihat, berpikir, dan mendengar. Ia juga senantiasa menetap di
tempat yang sama namun menguasai segala sesuatu dengan pikirannya saja.
Tentang Alam Semesta
Xenophanes
berpendapat bahwa matahari berjalan terus dengan gerak lurus, dan setiap pagi
terbitlah matahari baru. Gerhana disebabkan matahari jatuh ke dalam lubang. Ia
juga memandang bintang-bintang sebagai awan-awan yang berapi sehingga bersinar
ketika malam. Sinar itu seperti batu bara yang memerah dan ketika pagi hari api
dari awan itu padam kembali. Segala sesuatu dipandang berasal dari bumi, dan
bumi pula yang menjadi tujuan akhir segala sesuatu. Manusia berasal dari bumi
dan air. Sedangkan laut adalah sumber dari segala air dan juga angin. Samudra
yang luas menghasilkan awan-awan, angin, dan juga sungai-sungai. Pelangi
dipandang sebagai awan yang berwarna-warni.
Kemudian bumi
berada dalam proses peredaran terus-menerus. Tanah menjadi lumpur, lalu menjadi
air laut. Sebaliknya, laut menjadi lumpur, lalu menjadi tanah. Untuk
membuktikan teori ini, Xenophanes menunjukkan bahan bukti empiris, yakni
fosil-fosil kerang laut. Fosil-fosil tersebut berada dalam batu. Hal itu
menunjukkan bahwa dulu batu tersebut merupakan lumpur.
— Parmenides (540-475 SM)
Parmenides
adalah seorang filsuf dari Mazhab Elea. Di dalam Mazhab
Elea, Parmenides merupakan tokoh yang paling terkenal. Pemikiran
filsafatnya bertentangan dengan Herakleitos
sebab ia berpendapat bahwa segala sesuatu "yang ada" tidak berubah.
Parmenides
menuliskan filsafatnya dalam bentuk puisi. Ada ratusan baris puisi Parmenides
yang masih tersimpan hingga kini. Puisi
Parmenides terdiri dari prakata dan dua bagian. Dua bagian tersebut
masing-masing berjudul "Jalan Kebenaran" dan "Jalan
Pendapat". Bagian
prakata dan "Jalan Kebenaran" tersimpan secara lengkap, yakni 111
ayat. Bagian kedua, "Jalan Pengetahuan", hanya tersimpan sebanyak 42
ayat.
Parmenides
lahir pada tahun 540 SM dan meninggal pada tahun 470 SM. Ia berasal dari kota Elea, Italia Selatan. Ia
berasal dari keluarga yang kaya dan terhormat di Elea. Parmenides juga menyusun
suatu konstitusi untuk Elea.
Ia merupakan
murid dari Xenophanes, namun tidak mengikuti pandangan-pandangan gurunya.
Pengaruh Xenophanes terhadap Parmenides hanyalah di dalam penggunaan puisi di
dalam menyampaikan filsafatnya. Selain itu, ia juga amat dipengaruhi oleh Ameinias, seorang dari mazhab Pythagorean.
Menurut kesaksian
Plato, Parmenides
pernah mengunjungi Sokrates di Athena bersama Zeno, muridnya. Pada waktu itu, Sokrates masih
muda sedangkan Parmenides telah berusia 65 tahun.
Zeno (490-430 SM) adalah filsuf Yunani pra-Socrates dan anggota Sekolah Eleatic yang
didirikan oleh Parmenides. Aristotles menjulukinya penemu dialektik,
dan Bertrand Russell menyatakan ia telah menyebabkan
didirikannya logika modern. Ia paling terkenal untuk paradoksnya. Sedikit yang diketahui mengenai
kehidupannya.
Pemikiran Parmenides tentang "Yang Ada"
Inti utama
dari "Jalan Kebenaran" adalah keyakinan bahwa "hanya 'yang ada'
itu ada". Parmenides tidak mendefinisikan apa yang dimaksud "yang
ada", namun menyebutkan sifat-sifatnya. Menurut Parmenides, "yang
ada" itu bersifat meliputi segala sesuatu, tidak bergerak, tidak berubah,
dan tidak terhancurkan. Selain itu, "yang ada" itu juga tidak
tergoyahkan dan tidak dapat disangkal.
Menurut
Parmenides, "yang ada" adalah kebenaran yang tidak mungkin disangkal.
Bila ada yang menyangkalnya, maka ia akan jatuh pada kontradiksi. Hal itu dapat
dijelaskan melalui pengandaian yang diberikan oleh Parmenides. Pertama, orang
dapat mengatakan bahwa "yang ada" itu tidak ada. Kedua, orang dapat
mengatakan bahwa "yang ada" dan "yang tidak ada" itu
bersama-sama ada. Kedua pengandaian ini mustahil. Pengandaian pertama mustahil,
sebab "yang tidak ada" tidak dapat dipikirkan dan tidak dapat
dibicarakan. "Yang tidak ada" tidak dapat dipikirkan dan dibicarakan.
Pengandaian kedua merupakan pandangan dari Herakleitos. Pengandaian ini juga
mustahil, sebab pengandaian kedua menerima pengandaian pertama, bahwa
"yang tidak ada" itu ada, padahal pengandaian pertama terbukti
mustahil. Dengan demikian, kesimpulannya adalah "Yang tidak ada" itu
tidak ada, sehingga hanya "yang ada" yang dapat dikatakan ada.
Untuk lebih
memahami pemikiran Parmenides, dapat digunakan contoh berikut ini. Misalnya
saja, seseorang menyatakan "Tuhan itu tidak ada!" Di sini, Tuhan yang
eksistensinya ditolak orang itu sebenarnya ada, maksudnya harus diterima sebagai
dia "yang ada". Hal ini disebabkan bila orang itu mengatakan
"Tuhan itu tidak ada", maka orang itu sudah terlebih dulu memikirkan
suatu konsep tentang Tuhan. Barulah setelah itu, konsep Tuhan yang dipikirkan
orang itu disanggah olehnya sendiri dengan menyatakan "Tuhan itu tidak
ada". Dengan demikian, Tuhan sebagai yang dipikirkan oleh orang itu
"ada" walaupun hanya di dalam pikirannya sendiri. Sedangkan penolakan
terhadap sesuatu, pastilah mengandaikan bahwa sesuatu itu "ada"
sehingga "yang tidak ada" itu tidaklah mungkin. Oleh karena
"yang ada" itu selalu dapat dikatakan dan dipikirkan, sebenarnya
Parmenides menyamakan antara "yang ada" dengan pemikiran atau akal
budi.
Setelah
berargumentasi mengenai "yang ada" sebagai kebenaran, Parmenides juga
menyatakan konsekuensi-konsekuensinya:
¶ Pertama-tama,
"yang ada" adalah satu dan tak terbagi, sedangkan pluralitas tidak
mungkin. Hal ini dikarenakan tidak ada sesuatu pun yang dapat memisahkan
"yang ada".
¶ Kedua,
"yang ada" tidak dijadikan dan tidak dapat dimusnahkan. Dengan kata
lain, "yang ada" bersifat kekal dan tak terubahkan. Hal itu merupakan
konsekuensi logis, sebab bila "yang ada" dapat berubah, maka
"yang ada" dapat menjadi tidak ada atau "yang tidak ada"
dapat menjadi ada.
¶ Ketiga,
harus dikatakan pula bahwa "yang ada" itu sempurna, seperti sebuah
bola yang jaraknya dari pusat ke permukaan semuanya sama. Menurut Parmenides,
"yang ada" itu bulat sehingga mengisi semua tempat.
¶ Keempat,
karena "yang ada" mengisi semua tempat, maka disimpulkan bahwa tidak
ada ruang kosong. Jika ada ruang kosong, artinya menerima bahwa di luar
"yang ada" masih ada sesuatu yang lain. Konsekuensi lainnya adalah
gerak menjadi tidak mungkin sebab bila benda bergerak, sebab bila benda
bergerak artinya benda menduduki tempat yang tadinya kosong.
Pemikiran
Parmenides membuka babak baru dalam sejarah filsafat Yunani. Dapat
dikatakan bahwa dialah penemu metafisika, cabang filsafat yang menyelidiki "yang
ada". Filsafat di masa selanjutnya akan bergumul dengan masalah-masalah
yang dikemukakan Parmenides, yakni bagaimana pemikiran atau rasio dicocokkan
dengan data-data inderawi. Plato dan Aristoteles
adalah filsuf-filsuf yang memberikan pemecahan untuk masalah-masalah tersebut.
·
Melissos
Melissos
adalah filsuf
yang termasuk ke dalam Mazhab Elea. Para filsuf lain
dari mazhab ini adalah Parmenides dan Zeno. Pemikiran
Melissos mirip dengan Parmenides di dalam hal menyangkal adanya
"perubahan" dan "pluralitas" di alam semesta. Ada beberapa
fragmen yang tersimpan dari buku yang ditulis Melissos dalam bentuk prosa.
Tidak banyak
yang dapat diketahui mengenai riwayat hidupnya. Melissos berasal dari pulau Samos. Ia hidup pada
abad ke-5 SM. Hal tersebut didapatkan berdasarkan sumber yang menyatakan bahwa
ia menjadi panglima armada laut Samos yang melakukan penyerangan ke Athena pada tahun
440 SM. Pada peperangan tersebut, Melissos pada awalnya berhasil meraih
kemenangan atas armada laut Athena yang dipimpin Pericles. Akan
tetapi, pada akhirnya Melissos dan armada laut Samos dikalahkan oleh Athena.
Melissos
dikatakan hidup sezaman dengan Zeno, namun berusia lebih muda dari Zeno. Ia
dikatakan sebagai murid Parmenides. Buku yang ditulisnya merupakan buku yang
merevisi dan memodifikasi buku karangan Parmenides. Selain itu, menurut Diogenes, Melissos adalah seorang
negarawan yang dihormati pada masanya.
Pemikiran tentang "Yang Ada"
Menurut Melissos, "yang
ada" itu bersifat:
¶ Abadi
(omnitemporal)
¶ Tak
terbatas
¶ Satu
¶ Homogen
¶ Tidak
berubah
Abadi
Argumen
Melissos mengenai "yang ada" bersifat abadi sama dengan argumen
Parmenides. Melissos mengatakan bahwa jika sesuatu "tidak ada", apa
yang dapat dikatakan dikatakan tentang itu? Manusia hanya dapat mengatakan
sesuatu bila sesuatu itu "ada". Kemudian, "tidak ada"
tidaklah mungkin hancur menjadi tidak ada. Karena itu, "yang ada"
bersifat abadi.
Tak Terbatas
Parmenides
menyatakan bahwa "yang ada" bersifat abadi, namun berhingga di dalam
ruang. Hal itu ditolak oleh Melissos yang menyatakan bahwa "yang ada"
tak terbatas oleh ruang. Argumentasi Melissos adalah jika "yang ada"
itu terbatas di dalam ruang, maka harus dikatakan bahwa di luar "yang
ada" terdapat "yang tidak ada". Itu berarti "yang tidak
ada" ada sehingga premis keabadian "yang ada" menjadi hilang.
Karena itu, tidak mungkin "yang ada" itu terbatas, juga menurut
ruang.
Yang Satu
Melissos mengemukakan "yang
ada" itu satu, sehingga "yang ada" itu disebut juga "yang
satu". Argumentasi Melissos adalah jika "yang ada" berjumlah
lebih dari satu, maka ia tidak lagi tak terbatas sebab ada batas antara satu
dengan lainnya untuk berhubungan.
Homogen
Melissos juga
menyatakan bahwa "yang ada" pastilah homogen. Jika "yang ada" bersifat
heterogen, maka pasti terdapat pluralitas, sedangkan pluralitas berarti tidak
lagi satu.
Tidak Berubah
Terakhir,
Melissos juga menyatakan bahwa "yang ada" itu tidak berubah.
Argumentasi terhadap hal ini berhubungan dengan sifat abadi dari "yang
ada". Bila "yang ada" dapat berubah, maka ada kemungkinan ia
tidak abadi. Karena itu, pastilah "yang ada" itu tidak berubah.
Setelah
para filosof alam ini,
kemudian muncul beberapa filosof Sofis sebagai reaksi terhadap ketidakpuasan
mereka terhadap jawaban dari para filosof alam dan mengalihkan penelitian
mereka dari alam ke manusia. Bagi mereka, manusia adalah ukuran kebenaran
sebagaimana diungkapkan oleh Protagoras (490-420 SM), tokoh utama mereka.
·
Protagoras
Protagoras
adalah seorang filsuf
yang termasuk golongan sofis. Ia termasuk salah seorang sofis pertama dan juga yang
paling terkenal. Selain sebagai filsuf, ia juga dikenal sebagai orator dan
pendebat ulung. Ditambah lagi, ia terkenal sebagai guru yang mengajar banyak
pemuda pada zamannya.
Protagoras
berasal dari Abdera yang terletak di pantai
utara Laut
Aegea. Ia hidup antara tahun 490 SM - 420 SM. Ia seringkali melakukan
perjalanan ke negeri-negeri lain, termasuk beberapa kali kunjungan ke Athena. Di Athena,
Protagoras diminta oleh Perikles untuk turut ambil bagian dalam menyusun konstitusi
bagi koloni Athena di Thurioi tahun 444 SM. Menurut kesaksian dari Diogenes Laertios, pada
akhir hidupnya Protagoras dituduh di Athena karena kedurhakaan terhadap agama.
Buku-buku Protagoras dibakar di depan umum. Kemudian Protagoras diceritakan
melarikan diri ke Sisilia,
namun perahu yang ditumpanginya tenggelam.
Protagoras
mengarang banyak buku, namun hanya beberapa fragmen yang masih tersimpan. Akan
tetapi, isi filsafatnya masih dapat diketahui sebab pemikiran-pemikiran
Protagoras banyak dibicarakan oleh para filsuf selanjutnya. Plato merupakan
sumber utama, khususnya kedua dialognya yang berjudul Theaitetos dan Protagoras.
Buku paling terkenal dari Protagoras berjudul "Kebenaran" (Aletheia).
Pemikiran-Pemikiran Protagoras :
Tentang Pengenalan
Di dalam buku
yang berjudul "Kebenaran", Protagoras menyatakan bahwa :
"Manusia adalah
ukuran untuk segala-galanya: untuk hal-hal yang ada sehingga mereka ada, dan
untuk hal-hal yang tidak ada sehingga mereka tidak ada."
Manusia yang
dimaksud di sini adalah manusia sebagai individu. Dengan demikian, pengenalan
terhadap sesuatu bergantung pada individu yang merasakan sesuatu itu dengan
panca indranya. Contohnya bagi orang yang merasa sakit, angin dapat terasa
dingin. Sedangkan bagi orang yang sehat, angin itu terasa panas. Di sini kedua
orang tersebut benar, sebab pengenalan terhadap angin berdasarkan keadaan fisik
dan psikis orang-orang tersebut. Pandangan seperti ini dapat dikatakan relativisme
sebab kebenaran didasarkan pada masing-masing orang yang merasakannya.
Seni Berdebat
Di dalam
karya lain yang berjudul "Pendirian-Pendirian yang Bertentangan" (Antilogiai),
Protagoras mengemukakan bahwa
:
"Tentang semua hal
terdapat dua pendirian yang bertentangan".
Pandangan ini
berhubungan dengan pemikiran tentang relativitas pengenalan manusia. Jikalau
kebenaran ditentukan oleh setiap orang, maka disimpulkan bahwa satu pendirian
tidak lebih benar dari kebalikannya. Konsekuensi hal ini adalah terhadap seni
berpidato. Seorang orator haruslah berhasil meyakinkan para pendengarnya
mengenai kebenaran yang dianutnya. Dengan demikian, diperlukan kemampuan untuk
membuat argumentasi-argumentasi yang meyakinkan para pendengar.
Tentang Negara
Menurut
Protagoras, negara diadakan oleh manusia. Tujuan pembentukan sebuah negara
adalah supaya manusia dapat terlepas dari ketidakamanan dan kesulitan hidup di
alam yang buas. Untuk itulah, manusia menjalin hubungan dengan manusia-manusia
lainnya dan membentuk negara. Akan tetapi, kemudian manusia menyadari bahwa
hidup bersama manusia lain tidaklah mudah. Dengan sebuah mitos, Protagoras
menyatakan bahwa manusia diberikan dua hal oleh dewa untuk dapat hidup bersama
sesamanya. Kedua hal tersebut adalah keinsyafan akan keadilan (dike) dan
hormat terhadap orang lain (aidos). Dengan adanya dua hal ini, manusia
dapat hidup bersama sesamanya. Hal itu dilakukan manusia dengan membuat
undang-undang atau konstitusi. Dengan demikian, undang-undang tertentu tidak
lebih benar dari undang-undang lain. Ada undang-undang yang cocok untuk
masyarakat tertentu namun tidak cocok dengan masyarakat lainnya.
Tentang Dewa-Dewi
Di dalam
karya yang berjudul "Perihal Dewa-Dewi" (Peritheon),
Protagoras menyatakan bahwa :
"Mengenai
dewa-dewi saya merasa tidak mampu menentukan apakah mereka benar-benar ada atau
tidak ada; dan saya juga tidak dapat menentukan hakekat mereka.
Pertanyaan-pertanyaan seperti itu sulit dan umur manusia itu pendek."
Pandangan
Protagoras ini merupakan suatu skeptisisme,
artinya tidak mungkin dicapai suatu kebenaran. Hal itu cocok sekali dengan
pandangan relativistis yang dianutnya dalam bidang pengenalan.
Pengaruh Protagoras
Selama masa
hidupnya, Protagoras mempengaruhi
pemikiran banyak pemuda lewat pemikirannya tentang retorika dan pengetahuan. Ia
juga memengaruhi Demokritos dalam hal teorinya tentang pengetahuan dan
filsafat politik. Selain itu, ia juga membawa pengaruh besar terhadap para
negarawan, penyair, sejarawan, dan orator. Plato memberi kesaksian bahwa nama
Protagoras amat terkenal untuk waktu yang lama.
·
Gorgias
Gorgias
adalah seorang filsuf
yang termasuk sebagai kaum sofis. Di antara kaum Sofis, hanya Protagoras
yang lebih terkenal darinya. Selain
sebagai filsuf, ia terkenal di bidang retorika. Seperti
kaum sofis lainnya, ia juga mengajar dan mengumpulkan murid-murid.
Gorgias
menulis sebuah buku berjudul "Tentang yang Tidak Ada atau Tentang
Alam" (On Not Being or On Nature). Selain itu, ia juga menulis
beberapa buku tentang retorika, yang mana hanya beberapa fragmen yang masih
tersimpan. Dua karya yang diketahui ditulis oleh Gorgias adalah Encomium of
Hellen dan Defence of Palamedes.
Georgias
lahir di Leontinoi,
Sisilia.
Ia lahir sekitar tahun 483 SM dan meninggal dunia tahun 375 SM pada usia 108
tahun. Ia adalah murid dari filsuf Empedokles
dan dipengaruhi juga oleh dialektika
Zeno.
Pada tahun 427 SM, ia datang ke Athena
sebagai duta dari kota asalnya untuk meminta bantuan melawan kota Syrakusa. Ia
mengelilingi kota-kota Yunani, terutama Athena. Di Athena Gorgias mengalami
sukses besar sebagai orator.
Pemikiran-Pemikiran Gorgias :
Tentang Pengetahuan
Di dalam
karya "Tentang yang Tidak Ada atau tentang Alam", Gorgias menyatakan
pandangannya tentang ketidakmungkinan manusia mengetahui sesuatu. Ada tiga
tesis yang menjadi dasar argumentasinya:
¶ Tidak
ada sesuatupun.
¶ Jikalau
sesuatu itu ada, maka sesuatu itu tidak dapat dikenal.
¶ Seandainya
sesuatu itu ada dan dapat dikenal, sesuatu itu tidak dapat dikomunikasikan
dengan orang lain.
Apa yang
dimaksudkan oleh Gorgias di sini bukanlah suatu skeptisisme
ataupun nihilisme.
Ia menggunakan metode berargumentasi Mazhab Elea, khususnya Zeno dan Melissos, untuk
memperlihatkan bahwa cara berargumentasi mereka dapat diteruskan hingga menjadi
mustahil.
Retorika
Setelah
Gorgias mengarang karya "Tentang yang Tidak Ada atau tentang Alam",
ia meninggalkan filsafat dan menekuni retorika. Menurut Gorgias, ia tidak
mengajarkan suatu nilai tertentu.[3]
Setiap manusia memiliki pandangan tentang nilai secara berbeda. Misalnya, apa
yang dianggap bernilai oleh laki-laki, dapat dianggap tidak bernilai bagi
perempuan. Karena itu, amatlah penting bagi seorang orator untuk dapat
meyakinkan orang lain tentang suatu hal, sehingga orang lain mengikuti pendapat
orator tersebut. Inilah kekuatan terbesar yang dapat dimiliki manusia. Dengan
demikian, retorika adalah seni untuk meyakinkan orang lain. Hal itu ditunjang
dengan gaya bahasa tertentu, serta pentingnya mengemukakan alasan-alasan yang
tidak hanya menyentuh akal budi, tetapi juga hati pendengarnya. Sebagai contoh
keberhasilan retorika, ia memakai tokoh Helen yang berhasil
dipersuasi untuk meninggalkan Menelaus dan ikut dengan Jason.
Pengaruh Gorgias
Gorgias
memiliki seorang murid bernama Isokrates. Isokrates adalah
seorang orator ternama. Di kemudian hari, ia membuka suatu sekolah ilmu
retorika di Athena yang menjadi saingan berat dari Akademia Plato.
Pandangan
para filosof Sofis tersebut,
disanggah oleh para filosof setelahnya seperti Socrates (470-399 SM), Plato
(429-347 SM), dan Aristoteles (384-322 SM). Sehingga terjadilah Perkembangan ilmu (sains) ZAMAN YUNANI setelah abad ke 6 SM, yaitu perkembangan keemasan filsafat yunani.
B. Zaman Keemasan Filsafat
Yunani
Zaman ini
disebut dengan zaman keemasan kelimuan bangsa Yunani, karena pada zaman ini
kajian-kajian keilmuan yang
muncul adalah perpaduan antara filsafat alam dan filsafat tentang manusia. Pada
waktu Athena dipimpin oleh Perikles kegiatan politik dan filsafat dapat
berkembang dengan baik. Ada segolongan kaum yang pandai berpidato (rethorika)
dinamakan kaum sofis. Kegiatan mereka adalah mengajarkan pengetahuan pada kaum
muda. Yang menjadi objek penyelidikannya bukan lagi alam tetapi manusia,
sebagaimana yang dikatakan oleh Prothagoras, Manusia adalah ukuran untuk
segala-galanya. Hal ini ditentang oleh Socrates dengan mengatakan bahwa yang
benar dan yang baik harus dipandang sebagai nilai-nilai objektif yang dijunjung
tinggi oleh semua orang. Akibat ucapannya tersebut Socrates dihukum mati.
·
Socrates
Socrates
(Yunani:
Σωκράτης, Sǒcratēs) (470 SM - 399 SM) adalah filsuf dari Athena, Yunani dan merupakan salah satu figur paling penting dalam
tradisi filosofis Barat. Socrates lahir di Athena, dan merupakan generasi
pertama dari tiga ahli filsafat besar dari Yunani, yaitu Socrates, Plato dan Aristoteles.
Socrates adalah yang mengajar Plato, dan Plato pada gilirannya juga mengajar
Aristoteles.
Socrates
diperkirakan lahir dari ayah yang berprofesi sebagai seorang pemahat patung
dari batu (stone mason) bernama Sophroniskos. Ibunya bernama Phainarete
berprofesi sebagai seorang bidan, dari sinilah Socrates menamakan metodenya
berfilsafat dengan metode kebidanan nantinya. Socrates beristri seorang
perempuan bernama Xantippe dan dikaruniai tiga orang anak.
Secara
historis, filsafat Socrates mengandung pertanyaan karena Socrates sediri tidak
pernah diketahui menuliskan buah pikirannya. Apa yang dikenal sebagai pemikiran
Socrates pada dasarnya adalah berasal dari catatan oleh Plato, Xenophone (430-357) SM, dan siswa-siswa
lainnya. Yang paling terkenal diantaranya adalah Socrates dalam dialog Plato
dimana Plato selalu menggunakan nama gurunya itu sebagai tokoh utama karyanya
sehingga sangat sulit memisahkan mana gagasan Socrates yang sesungguhnya dan
mana gagasan Plato yang disampaikan melalui mulut Sorates. Nama Plato sendiri
hanya muncul tiga kali dalam karya-karyanya sendiri yaitu dua kali dalam
Apologi dan sekali dalam Phaedrus.
Socrates
dikenal sebagai seorang yang tidak tampan, berpakaian sederhana, tanpa alas
kaki dan berkelilingi mendatangi masyarakat Athena berdiskusi
soal filsafat.
Dia melakukan ini pada awalnya didasari satu motif religius untuk membenarkan suara
gaib yang didengar seorang kawannya dari Oracle
Delphi yang mengatakan bahwa tidak ada orang yang lebih bijak dari
Socrates. Merasa diri tidak bijak dia berkeliling membuktikan kekeliruan suara
tersebut, dia datangi satu demi satu orang-orang yang dianggap bijak oleh masyarakat
pada saat itu dan dia ajak diskusi tentang berbagai masalah kebijaksanaan.
Metode berfilsafatnya inilah yang dia sebut sebagai metode kebidanan. Dia
memakai analogi seorang bidan yang membantu kelahiran seorang bayi dengan caranya
berfilsafat yang membantu lahirnya pengetahuan melalui diskusi panjang dan
mendalam. Dia selalu mengejar definisi absolut tentang satu masalah kepada
orang-orang yang dianggapnya bijak tersebut meskipun kerap kali orang yang
diberi pertanyaan gagal melahirkan definisi tersebut. Pada akhirnya Socrates
membenarkan suara
gaib tersebut berdasar satu pengertian bahwa dirinya adalah yang paling bijak
karena dirinya tahu bahwa dia tidak bijaksana sedangkan mereka yang merasa
bijak pada dasarnya adalah tidak bijak karena mereka tidak tahu kalau mereka
tidak bijaksana.
Cara
berfilsatnya inilah yang memunculkan rasa sakit hati terhadap Sokrates karena
setelah penyelidikan itu maka akan tampak bahwa mereka yang dianggap bijak oleh
masyarakat ternyata tidak mengetahui apa yang sesungguhnya mereka duga mereka
ketahui. Rasa sakit hati inilah yang nantinya akan berujung pada kematian
Sokrates melalui peradilan dengan tuduhan resmi merusak generasi muda, sebuah
tuduhan yang sebenarnya dengan gampang dipatahkan melalui pembelaannya
sebagaimana tertulis dalam Apologi karya Plato. Socrates pada akhirnya wafat
pada usia tujuh puluh tahun dengan cara meminum racun sebagaimana
keputusan yang diterimanya dari pengadilan dengan hasil voting 280 mendukung
hukuman
mati dan 220 menolaknya.
Socrates
sebenarnya dapat lari dari penjara, sebagaimana ditulis dalam Krito, dengan bantuan para
sahabatnya namun dia menolak atas dasar kepatuhannya pada satu
"kontrak" yang telah dia jalani dengan hukum di kota Athena.
Keberaniannya dalam menghadapi maut digambarkan dengan indah dalam Phaedo karya
Plato. Kematian Socrates dalam ketidakadilan peradilan menjadi salah satu
peristiwa peradilan paling bersejarah dalam masyarakat Barat di samping
peradilan Yesus Kristus.
Filosofi Socrates :
Peninggalan
pemikiran Socrates yang paling penting ada pada cara dia berfilsafat dengan
mengejar satu definisi absolut atas satu permasalahan melalui satu dialektika.
Pengejaran pengetahuan hakiki melalui penalaran dialektis menjadi pembuka jalan
bagi para filsuf
selanjutnya. Perubahan fokus filsafat dari memikirkan alam menjadi manusia juga
dikatakan sebagai jasa dari Sokrates. Manusia menjadi
objek filsafat yang penting setelah sebelumnya dilupakan oleh para pemikir
hakikat alam
semesta. Pemikiran tentang manusia ini menjadi landasan bagi perkembangan
filsafat etika dan epistemologis di kemudian hari.
Sumbangsih
Socrates yang terpenting bagi pemikiran Barat adalah metode penyelidikannya,
yang dikenal sebagai metode elenchos,
yang banyak diterapkan untuk menguji konsep moral yang pokok. Karena itu,
Socrates dikenal sebagai bapak dan sumber etika atau filsafat moral, dan juga
filsafat secara umum.
· Plato
Hasil
pemikiran Socrates dapat diketemukan pada muridnya Plato. Plato (bahasa
Yunani: Πλάτων) (lahir sekitar 429 SM
- meninggal sekitar 347
SM) adalah seorang filsuf dan matematikawan Yunani, dan pendiri dari Akademi
Platonik di Athena, sekolah tingkat tinggi pertama di dunia barat. Ia
adalah murid Socrates.
Pemikiran Plato pun banyak dipengaruhi oleh Socrates. Plato adalah guru dari Aristoteles.
Karyanya yang paling terkenal ialah Republik (dalam bahasa Yunani Πολιτεία atau Politeia,
"negeri") yang di dalamnya berisi uraian garis besar pandangannya
pada keadaan "ideal". Dia juga menulis 'Hukum' dan banyak dialog di
mana Socrates
adalah peserta utama. Salah satu perumpamaan Plato yang termasyhur adalah
perumpaan tentang orang di gua. Cicero mengatakan Plato
scribend est mortuus (Plato meninggal ketika sedang menulis).
Ciri-ciri Karya-karya Plato
¶ Bersifat
Sokratik
Dalam
Karya-karya yang ditulis pada masa mudanya, Plato selalu menampilkan
kepribadian dan karangan Sokrates sebagai topik utama karangannya.
¶ Berbentuk
dialog
Hampir semua
karya Plato ditulis dalam nada dialog. Dalam Surat VII, Plato
berpendapat bahwa pena dan tinta membekukan pemikiran sejati yang ditulis dalam
huruf-huruf yang membisu. Oleh karena itu, menurutnya, jika pemikiran itu perlu
dituliskan, maka yang paling cocok adalah tulisan yang berbentuk dialog.
¶ Adanya
mite-mite
Plato
menggunakan mite-mite untuk menjelaskan ajarannya yang abstrak dan adiduniawi. Verhaak menggolongkan tulisan Plato ke
dalam karya sastra bukan ke dalam karya ilmiah yang sistematis karena dua ciri
yang terakhir, yakni dalam tulisannya terkandung mite-mite dan berbentuk
dialog.
Pandangan Plato tentang Ide-ide, Dunia Ide dan Dunia Indrawi :
Idea-idea
Sumbangsih
Plato yang terpenting adalah pandangannya mengenai idea. Pandangan Plato terhadap
idea-idea dipengaruhi oleh pandangan Sokrates tentang definisi. Idea yang dimaksud oleh Plato
bukanlah ide yang dimaksud oleh orang modern. Orang-orang modern berpendapat ide adalah gagasan atau
tanggapan yang ada di dalam pemikiran saja. Menurut Plato idea tidak diciptakan oleh pemikiran
manusia. Idea tidak tergantung pada pemikiran
manusia, melainkan pikiran manusia yang tergantung pada idea. Idea adalah citra pokok dan
perdana dari realitas, nonmaterial, abadi, dan tidak berubah. Idea sudah ada
dan berdiri sendiri di luar pemikiran kita. Idea-idea ini saling berkaitan satu
dengan yang lainnya. Misalnya, idea tentang dua buah lukisan tidak dapat
terlepas dari idea dua, idea dua itu sendiri tidak dapat terpisah dengan idea
genap. Namun, pada akhirnya terdapat puncak yang paling tinggi di antara
hubungan idea-idea tersebut. Puncak inilah yang disebut idea yang “indah”. Idea
ini melampaui segala idea yang ada.
Dunia Indrawi
Dunia indrawi
adalah dunia yang mencakup benda-benda jasmani yang konkret, yang dapat
dirasakan oleh panca indera kita. Dunia indrawi ini tiada lain hanyalah
refleksi atau bayangan daripada dunia ideal. Selalu terjadi perubahan
dalam dunia indrawi ini. Segala sesuatu yang
terdapat dalam dunia jasmani ini fana, dapat rusak, dan dapat mati.
Dunia Idea
Dunia idea
adalah dunia yang hanya terbuka bagi rasio kita. Dalam dunia ini tidak ada
perubahan, semua idea bersifat abadi dan tidak dapat diubah. Hanya ada satu
idea “yang bagus”, “yang indah”. Di dunia idea semuanya sangat sempurna. Hal
ini tidak hanya merujuk kepada barang-barang kasar yang bisa dipegang saja,
tetapi juga mengenai konsep-konsep pikiran, hasil
buah intelektual.
Misalkan saja konsep mengenai "kebajikan" dan "kebenaran".
Pandangan Plato tentang Karya Seni dan Keindahan
Pandangan Plato tentang Karya Seni
Pandangan
Plato tentang karya seni dipengaruhi oleh pandangannya tentang ide. Sikapnya
terhadap karya seni sangat jelas dalam bukunya Politeia (Republik).
Plato memandang negatif karya seni. Ia menilai
karya seni sebagai mimesis mimesos. Menurut Plato, karya seni hanyalah
tiruan dari realita
yang ada. Realita
yang ada adalah tiruan (mimesis) dari yang asli. Yang asli itu adalah
yang terdapat dalam ide.
Ide jauh lebih unggul,
lebih baik, dan lebih indah daripada yang nyata ini.
Pandangan Plato tentang Keindahan
Pemahaman
Plato tentang keindahan yang dipengaruhi pemahamannya tentang dunia indrawi, yang terdapat
dalam Philebus. Plato berpendapat bahwa keindahan yang sesungguhnya
terletak pada dunia ide. Ia berpendapat bahwa kesederhanaan adalah ciri khas
dari keindahan, baik dalam alam semesta maupun dalam karya seni. Namun, tetap
saja, keindahan yang ada di dalam alam semesta ini hanyalah keindahan semu dan
merupakan keindahan pada tingkatan yang lebih rendah.
Dalam
filsafatnya Plato mengatakan: realitas seluruhnya terbagi atas dua dunia yang
hanya terbuka bagi pancaindra dan dunia yang hanya terbuka bagi rasio kita.
Dunia yang pertama adalah dunia jasmani dan yang kedua dunia ide. Pendapat tersebut dikritik oleh
Aristoteles dengan mengatakan bahwa yang ada itu adalah manusia-manusia yang
konkret. “Ide manusia” tidak terdapat dalam kenyataan.
·
Aristoteles
Aristoteles
adalah filsuf realis, dan sumbangannya kepada perkembangan ilmu pengetahuan
besar sekali. Aristoteles (bahasa
Yunani: ‘Aριστοτέλης Aristotélēs), (384 SM – 322 SM) adalah
seorang filsuf
Yunani,
murid dari Plato
dan guru dari Alexander yang Agung. Ia menulis berbagai
subyek yang berbeda, termasuk fisika, metafisika, puisi, logika, retorika, politik, pemerintahan, etnis, biologi dan zoologi. Bersama
dengan Socrates
dan Plato, ia
dianggap menjadi seorang di antara tiga orang filsuf yang paling berpengaruh di
pemikiran Barat.
Aristoteles lahir di Stagira, kota di
wilayah Chalcidice, Thracia, Yunani (dahulunya
termasuk wilayah Makedonia tengah) tahun 384 SM. Ayahnya
adalah tabib pribadi Raja Amyntas dari
Makedonia. Pada usia 17 tahun, Aristoteles menjadi murid Plato. Belakangan ia
meningkat menjadi guru di Akademi Plato di Athena selama 20
tahun. Aristoteles meninggalkan akademi tersebut setelah Plato meninggal, dan
menjadi guru bagi Alexander dari Makedonia. Saat Alexander
berkuasa di tahun 336
SM, ia kembali ke Athena. Dengan dukungan dan bantuan dari Alexander, ia
kemudian mendirikan akademinya sendiri yang diberi nama Lyceum, yang dipimpinnya sampai
tahun 323 SM.
Perubahan politik seiring jatuhnya Alexander menjadikan dirinya harus kembali
kabur dari Athena guna menghindari nasib naas sebagaimana dulu dialami
Socrates. Aristoteles meninggal tak lama setelah pengungsian tersebut.
Aristoteles sangat menekankan empirisme untuk menekankan pengetahuan.
Pemikiran-Pemikiran Aristoteles :
Filsafat
Aristoteles berkembang dalam tiga tahapan yang pertama ketika dia masih belajar
di Akademi Plato ketika gagasannya masih dekat dengan gurunya tersebut,
kemudian ketika dia mengungsi, dan terakhir pada waktu ia memimpin Lyceum
mencakup enam karya tulisnya yang membahas masalah logika, yang
dianggap sebagai karya-karyanya yang paling penting, selain kontribusinya di
bidang Metafisika, Fisika, Etika, Politik, Ilmu Kedokteran, Ilmu Alam dan karya
seni.
Di bidang ilmu alam,
ia merupakan orang pertama yang mengumpulkan dan mengklasifikasikan spesies-spesies
biologi secara sistematis. Karyanya ini menggambarkan kecenderungannya akan
analisis kritis, dan pencarian terhadap hukum alam dan keseimbangan pada alam.
Berlawanan
dengan Plato yang menyatakan teori tentang bentuk-bentuk ideal benda,
Aristoteles menjelaskan bahwa materi tidak mungkin tanpa bentuk karena ia ada
(eksis). Pemikiran lainnya adalah tentang gerak dimana dikatakan semua benda
bergerak menuju satu tujuan, sebuah pendapat yang dikatakan bercorak
teleologis. Karena benda tidak dapat bergerak dengan sendirinya maka harus ada
penggerak dimana penggerak itu harus mempunyai penggerak lainnya hingga tiba
pada penggerak pertama yang tak bergerak yang kemudian disebut dengan theos,
yaitu yang dalam pengertian Bahasa Yunani sekarang dianggap berarti Tuhan. Logika Aristoteles
adalah suatu sistem berpikir deduktif (deductive reasoning),
yang bahkan sampai saat ini masih dianggap sebagai dasar dari setiap pelajaran
tentang logika formal. Meskipun demikian, dalam penelitian ilmiahnya ia
menyadari pula pentingnya observasi, eksperimen dan berpikir induktif (inductive thinking).
Hal lain
dalam kerangka berpikir yang menjadi sumbangan penting Aristoteles adalah
silogisme yang dapat digunakan dalam menarik kesimpulan yang baru yang tepat
dari dua kebenaran yang telah ada. Misalkan ada dua pernyataan (premis) :
¶ Setiap
manusia pasti akan mati (premis mayor).
¶ Sokrates
adalah manusia (premis minor)
¶ maka
dapat ditarik kesimpulan bahwa Sokrates pasti akan mati
Di bidang politik,
Aristoteles percaya bahwa bentuk politik yang ideal adalah gabungan dari bentuk
demokrasi dan monarki.
Karena
luasnya lingkup karya-karya dari Aristoteles, maka dapatlah ia dianggap
berkontribusi dengan skala ensiklopedis, dimana kontribusinya melingkupi
bidang-bidang yang sangat beragam sekali seperti Fisika, Astronomi, Biologi,
Psikologi, Metafisika (misalnya studi tentang prisip-prinsip awal mula dan
ide-ide dasar tentang alam), logika formal, etika, politik, dan bahkan teori
retorika dan puisi.
Di bidang
seni, Aristoteles memuat pandangannya tentang keindahan dalam buku Poetike. Aristoteles sangat
menekankan empirisme untuk menekankan pengetahuan. Ia mengatakan bahwa
pengetahuan dibangun atas dasar pengamatan dan penglihatan. Menurut Aristoteles
keindahan menyangkut keseimbangan ukuran yakni ukuran material. Menurut
Aristoteles sebuah karya seni adalah sebuah perwujudan artistik yang merupakan
hasil chatarsis disertai dengan
estetika. Chatarsis adalah pengungkapan kumpulan perasaan yang dicurahkan ke
luar. Kumpulan perasaan itu disertai dorongan normatif. Dorongan normatif yang
dimaksud adalah dorongan yang akhirnya memberi wujud khusus pada perasaan
tersebut. Wujud itu ditiru dari apa yang ada di dalam kenyataan. Aristoteles juga
mendefinisikan pengertian sejarah yaitu Sejarah merupakan satu sistem yang
meneliti suatu kejadian sejak awal dan tersusun dalam bentuk kronologi. Pada
masa yang sama, menurut beliau juga Sejarah adalah peristiwa-peristiwa masa
lalu yang mempunyai catatan, rekod-rekod atau bukti-bukti yang konkrit.
Pengaruh Aristoteles
Meskipun
sebagian besar ilmu pengetahuan yang dikembangkannya terasa lebih merupakan
penjelasan dari hal-hal yang masuk akal (common-sense explanation),
banyak teori-teorinya yang bertahan bahkan hampir selama dua ribu tahun
lamanya. Hal ini terjadi karena teori-teori tersebut karena dianggap masuk akal
dan sesuai dengan pemikiran masyarakat pada umumnya, meskipun kemudian ternyata
bahwa teori-teori tersebut salah total karena didasarkan pada asumsi-asumsi
yang keliru.
Dapat
dikatakan bahwa pemikiran Aristoteles sangat berpengaruh pada pemikiran Barat
dan pemikiran keagamaan lain pada umumnya. Penyelarasan pemikiran Aristoteles
dengan teologi Kristiani dilakukan oleh Santo
Thomas Aquinas di abad ke-13, dengan teologi Yahudi oleh Maimonides
(1135 – 1204), dan dengan teologi Islam oleh Ibnu Rusyid
(1126 – 1198). Bagi manusia abad pertengahan, Aristoteles tidak saja dianggap
sebagai sumber yang otoritatif terhadap logika dan metafisika, melainkan juga
dianggap sebagai sumber utama dari ilmu pengetahuan, atau "the master
of those who know", sebagaimana yang kemudian dikatakan oleh Dante
Alighieri.
Sumbangan
yang sampai sekarang masih digunakan dalam ilmu pengetahuan adalah mengenai
abstraksi, yakni aktivitas rasional di mana seseorang memperoleh pengetahuan.
Menurut Aristoteles ada tiga macam abstraksi, yakni abstraksi fisis, abstraksi
matematis, dan metafisis.
Abstraksi
yang ingin menangkap pengertian dengan membuang unsur-unsur individual untuk
mencapai kualitas adalah abstraksi fisis. Sedangkan abstraksi di mana subjek
menangkap unsur kuantitatif dengan menyingkirkan unsur kualitatif disebut
abstraksi matematis. Abstraksi di mana seseorang menangkap unsur-unsur yang
hakiki dengan mengesampingkan unsur-unsur lain disebut abstraksi metafisis.
Teori
Aristoteles yang cukup terkenal adalah tentang materi dan bentuk. Keduanya ini
merupakan prinsip-prinsip metafisis, Materi adal.ah prinsip yaug tidak
ditentukan, sedangkan bentuk adalah prinsip yang menentukan. Teori ini terkenal
dengan sebutan Hylemorfisyme.
Perkembangan Ilmu Pengetahuan Yunani Kuno
Teknologi Yunani Kuno berkembang maju
pada saat abad ke-5 SM, dan sampai dengan zaman Roma dan seterusnya. Penemun
yang dianggap dihasilkan oleh Yunani Kuno termasuk gir, skrup, obeng, jam air,
ketapel, teknik pembuatan barang dari perunggu dan penggunaan uap untuk
menggerakkan mesin dan mainan. Kebanyakan ciptaan ini berlaku di akhir zaman
Yunani, sering kali diinspirasikan untuk memperbaiki senjata dan taktik dalam
peperangan. Dan juga diterapkannya teknologi kincir air untuk alat eksloitasi
oleh orang-orang Roma. Mereka juga mempunyai sistem pensurveian dan matematika
tahap tinggi, dan banyak kemajuan mereka, diterbitkan oleh ahli falsafah
seperti Archimedes dan Hero.
Teknologi air
Sumber air
adalah antara sumbangan terpenting dari Yunani kuno kepada banyak teknologi
modern. Banyak bidang yang bergantung kepada sumber air, terutama di kawasan
pelabuhan, seperti penggunaan air bawah tanah, perpipaan untuk saluran air,
tanggul dan saluran air hujan, air mancur, air untuk kebutuhan rumah tangga dan
serta air untuk tujuan rekreasi.
Pertambangan
Orang Yunani
membangun tambang-tambang perak sampai di Laurium, dan keuntungannya digunakan untuk
pembangunan Athena sebagai sebuah pelabuhan dan negara. Bijih-bijih
yang ditambang dari dalam tanah dibersihkan dan kemudiannya dileburkan untuk
menghasilkan logam perak asli. Tempat-tempat pembersihan bijih ini, yang
dipercantik. Pertambangan tersebut dilengkapi tangki-tangki yang menampung air
hujan atau salju ketika musim dingin.
Teknologi
Perkembangan
teknologi yunani Kuno agak terhambat karena pandanganya terhadap buruh, menurut
mereka buruh adalah hina dan tidak boleh mengaplikasikan teknologi. Namun,
akhirnya pada abad ke-6SM oleh Eupalinos di Samos telah memberi pandangan baru bahwa buruh
harus mempunyai skill dan boleh mengakplikasinya.
Teknologi
Yunani Kuno
Teknologi
|
Tahun
|
Keterangan
|
sekitar 600 SM
|
Penggabungan peta geografi
pertama dibuat oleh Anaximander dan Erasthothenes
|
|
Derek
|
sekitar 515 SM
|
Alat penghemat tenaga yang
membuat pekerjaan menjadi lebih efisien. Kemudian pemakaian roda ditambah
untuk pekerjaan yang lebih berat.
|
sekitar abad ke-5 SM
|
Pasak dengan jenis yang lain,
diperkenalkan di Yunani pada abad 5 SM
|
|
Gear
|
sekitar abad ke-3 SM
|
Perkembangan dari zaman
prasejarah untuk tujuan yang praktis
|
Sistem Pipa
|
sekitar abad ke-5 SM
|
Saluran pipa digunakan untuk
mencukupi kebutuhan air yang biasa digunakan sehari-hari
|
Perencanaan Kota
|
sekitar abad ke-5 SM
|
Miletus adalah orang yang
pertama kali merencanakan tata kota yang mempunyai batas dan ruang terbuka
|
sekitar abad ke-3 SM
|
Lighthouse di Alexandriaas didesain oleh Sostratus dari Cnidus.
|
|
sekitar 300 SM
|
Digunakan pertama kali pada
tahun 200SM, ditemukan oleh Ctesitius
|
|
sekitar abad ke-3 SM
|
Odometer adalah alat untuk
menentukan jarak perjalanan, ditemukan pada abad 3 SM oleh Archimedes
|
|
sekitar abad ke-3 SM
|
Ctesibius dari Alexandria mencipta sebuah
bentuk meriam primitif, dioperasi oleh tekanan angin.
|
|
Dermaga
|
sekitar 200 SM
|
Ditemukan oleh Athenaeus dari Naucratis.
|
Kincir Angin dan pompa air
|
sekitar abad ke-2 SM
|
Ditemukan oleh Ctesibius yang
sangat berguna untuk mencukupi kebutuhan
|
150 SM
|
Komputer analog sebagai alat
hitung sederhana dan ditemukan oleh archimedes
|
|
Abad 1SM
|
Ditemukan oleh Alexandria,
Pintu otomatis untuk kuil.
|
Arsitektur Yunani Kuno
Arsitektur (
bangunan yang dikerjakan menjadi suatu desain yang estetik) mulai berakhir di
Yunani dari akhir periode Mycenaean ( sekitar 1200 SM) sampai abad ke 7 SM, manakala kehidupan kota dan
kemakmuran kembali dan sampai batas di mana gedung pemerintah dapat dikerjakan.
Tetapi sejak bangunan Yunani kuno berada di Archaic dan awal periode klasik
dibuat dari kayu atau tanah liat, tidak ada apapun sisa reruntuhan di antara
bangunan tersebut kecuali tanah dan di sana hampir tidak ada sumber tertulis
tentang awal arsitektur atau uraian dari bangunan tersebut. Kebanyakan
pengetahuan tentang Arsitektur Yunani datang dari minoritas bangunan yang menyangkut
gaya klasik,Hellenistic dan periode Roma (sejak arsitektur roma mengikuti gaya
Yunani). Ini berarti hanya kuil yang bangunannya kuat yang bertahan.
Arsitektur,
seperti lukisan dan pahatan tidak dilihat sebagai suatu " seni" pada
Periode Yunani jaman kuno. Arsitek adalah seorang tukang yang ahli yang
dipekerjakan oleh bangsawan atau orang kaya. Tidak ada perbedaan antara arsitek
dan pemborong bangunan. Arsitek merancang bangunan, menyewa tenaga kerja dan
tenaga ahli untuk membangun dan bertanggung jawab atas anggaran dan
penyelesaian tepat waktu kedua-duanya. Ia tidak menikmati statusnya, tidak
seperti arsitek pada bangunan modern. Bahkan nama arsitek tidak dikenal sebelum
abad ke 5. Seorang arsitek seperti Iktinos, yang merancang Parthenon, yang hari
ini dinilai sebagai seorang arsitektur yang genius, diperlakukan pada waktu itu
dalam seumur hidupnya tidak lebih daripada seorang pedagang.
Bentuk
standar Gedung pemerintah Yunani dikenal mempunyai bantuk yang sama dari
Parthenon, dan bahkan bangsa Roma membangun bangunan mereka ,engikuti gaya
Yunani, seperti Kuil untuk semua dewa di Roma. Bangunan pada umumnya membentuk
suatu dadu atau kubus ataupun suatu segiempat panjang dan dibuat dari batu
gamping. Pualam adalah suatu material bangunan mahal di Yunani: pualam mutu
tinggi datang hanya dari Mt Pentelus di Attica dan dari beberapa pulau seperti
Paros, dan jalur transportasinya sangat sulit. Batu pualam digunakan dalam
pahatan dekorasi, tidak berstruktur, kecuali di dalam bangunan paling agung
periode zaman Klasik seperti Parthenon.
Titik dari
atap Yunani yang rendah membuat suatu bentuk persegi tiga pada masing-masing
tepi bangunan, pediment, yang mana pada umumnya diisi dengan dekorasi pahatan.
Sepanjang sisi dari bangunan, antara kolom dan atap, adalah suatu baris blok
sekarang dikenal sebagai entablature, yang permukaannya menyajikan suatu
ruangang untuk memahat, dekorasi yang dikenal sebagai metopes dan triglyphs.
Tidak ada yang dapat menyelamatkan bagunan Yunani dari keruntuhan, tetapi
bangunan aslinya dapat dilihat pada beberapa tiruan dari bangunan modern
Yunani, seperti Yunani Akademi Nasional yang membangun di Athena,
Format
Arsitektur umum lainnya yang digunakan dalam arsitektur Yunani adalah tholos,
suatu struktur lingkaran dimana contoh yang terbaik adalah pada Delphi (lihat
gambar 1.3) dan tujuan religiusnya adalah melayani pemuja kuil, propylon atau
serambi, yang mengapit pintu masuk ke ruangan terbuka dan cagar alam ( contoh
yang terbaik yang dikenal adalah pada Acropolis Athens), dan stoa, suatu aula
yang sempit panjang dengan suatu colonnade terbuka pada satu sisi yang
digunakan untuk mengatur barisan kolom kuil Yunani. Suatu stoa yang telah
dipugar adalah Stoa Attalus dapat dilihat di Athena.
Dasar dari
segiempat panjang atau kubus pada umumnya diapit oleh colonnades ( baris kolom)
pada bagian atas baik dua maupun pada keempat sisinya. Ini adalah format dari
Parthenon. Sebagai alternatif, suatu bangunan berbentuk kubus akan membuat
suatu serambi bertiang-tiang ( atau pronaos dalam) istilah Yunani) sebagai
pembentukan pintu masuknya, seperti terlihat pada setiap Kuil untuk semua dewa.
Yunani memahami prinsip dari pekerjaan menembok bangunan lengkung tetapi
penggunaannya sangat sedikit dalam bangunan Yunani dan bangunan Yunani tidak
meletakkan kubah pada atas bangunan mereka tetapi mengatapi bangunan mereka
dengan balok kayu yang ditutup dengan terra cotta ( atau adakalanya batu
pualam).
Kuil adalah
tempat terbaik yang dikenal umum dalam dunia arsitektural. Kuil tidak mempunyai
fungsi yang sama dalam melayani seperti pada gerja modern. Untuk satu hal,
altar memikul langit yang terbuka di dalam temenos atau tempat pengorbanan
suci. Kuil bertindak sebagai tempat penyimpanan benda-benda yang dianggap berhubungan
langsung dengan dewa yang dipuja. Kuil adalah suatu tempat untuk pemuja dewa
untuk meninggalkan sesaji yang memenuhi nazar mereka, seperti persembahan
patung, Pada bagian dalam kuil, cella, begitu para pemuja sebagian besar
menyimpan barang pemujaan mereka dalam ruangan besi dan gudang. Dan bangunan
itu pada umumnya dilapisi oleh baris kolom yang lain .
Tiap-Tiap
Kota di Yunani dengan segala ukurannya juga mempunyai suatu palaestra atau
ruang olah raga. Ruangan ini sangat terbuka dengan atap terbuka menghadap ke
langit dan dilapisi dengan colonnades, digunakan untuk kejuaraan atletik dan
latihan juga sebagai pusat perkumpulan kegiatan sosial dan juga tempat
perkumpulan kaum pria. Kota Yunani juga perlu sedikitnya satu bouleuterion atau
sidang, suatu bangunan yang besar yang sebagai ruang pertemuanyang menempatkan
dewan kota ( boule) dan sebagai gedung pengadilan. Karena Yunani tidak
menggunakan bangunan lengkung atau kubah, mereka tidak bisa membangun ruang
besar tanpa didukung oleh atap, bouleuterion adalah baris tiang dan kolom
internal yang digunakan untuk menopang atap atas.
Terakhir,
tiap-tiap Kota di Yunani mempunyai suatu teater. Ini digunakan untuk
pertemuan-pertemuan publik atau drama. Acara di dalam teater berkisar pada abad
ke 6 BC ( lihat Teater Yunani). Teater pada umumnya yang ditetapkan dalam suatu
lereng bukit di luar kota itu , dan mempunyai tempat duduk berupa barisan yang
ditetapkan dalam suatu seperdua lingkaran di sekitar area pusat orkes atau
acara. Di belakang orkes adalah suatu bangunan rendah yang disebut skene, yang
mana bertindak sebagai suatu gudang, suatu kamar ganti, dan juga sebagai latar
belakang pada tindakan yang berlangsung di dalam orkes atau pertunjukkan
tersebut. Sejumlah Teater Yunani hampir tetap utuh, yang terbaik yang dikenal
adalah teater Epidaurus.
Ada dua gaya
utama dalam Arsitektur Yunani, yaitu Doric dan Ionik. Nama ini digunakan hanya
untuk bangsa Yunani sendiri. dan mencerminkan kepercayaan mereka pada Ionic dan
Doric dari zaman kegelapan, tetapi ini tidak sepenuhnya benar. gaya Doric
digunakan di tanah daratan Yunani dan tersebar dari sana pada wilayah jajahan
Yunani di Italia. gaya Yang bersifat ionik digunakan di kota besar Ionia (
sekarang pantai barat Turki) dan sebagian dari pulau Aegean. Gaya Doric jadi
lebih keras dan formal, yang bersifat ionik jadi lebih longgar dan dekoratif.
Gaya Corinthian yang mempunyai banyak hiasan adalah perkembangan akhir dari
gaya ionik. Gaya ini dikenal hingga ke ibu kota, tetapi ada perbedaan banyak
dalam poin-poin desain dan dekorasi antara gaya tersebut. Lihatlah artikel yang
terpisah pada golongan klasik.
Matematika Yunani Kuno
Pengaruh
matematika Yunani berlanjut selama beraba-abad. Aritmatika, Geometri dan
aljabar yang masih banyak digunakan saat ini. Sebagai contoh, Phytagoras memiliki gagasan bahwa segala sesuatu
di semesta dapat dinyatakan dengan angka.
Ilmuwan penting dalam bidang ini:
a.
Phytagoras: Teorema Phytagoras, bilangan irrasional,
b.
Archimedes: Menyumbangkan kombinatorik & persamaan kubik.
c.
Aristoteles: Menyumbangkan logika matematika.
d.
Plato: Menyumbangkan matriks, invers, dan teorema dasar aljabar (bersama
Ababar).
Astronomi Yunani kuno
Astronomi
Yunani cukup maju setelah berabad-abad pengamatan Yunani Kuno untuk pertama
kalinya model matematika. Dalam ilmu ini, heliosentris mengalami perdebatan
yang cukup panjang.
Beberapa ilmuwan yang mengambil peranan
dalam astronomi Yunani antara lain:
¶ Archimedes
¶ Pythagoras
¶ Chios
Methodorus
¶ Democritus
¶ Empedokles
¶ Epicurus
¶ Copernicus
¶ Ptolomeus
¶ Newton
Geologi dan Seismologi
Gempa Bumi
yang berasal dari bawah tanah telah berhasil diteliti oleh orang Yunani kuno.
Banyak pendapat yang muncul sehingga menjadikan topik ini terus berlanjut.
Christopher L Linier adalah orang yang meneliti hal tersebut.
Fisika dan Meteorologi
Perkembangan
ini dimulai saat Archimedes yang menemukan tekanan Hidrostatis. Dan Democratus,
Leocippus, dan beberapa ilmuwan lainnya menemukan teori model atom. Plato juga
turut menyumbangkan sumbangsihnya lewat Polihedron dan Segitiga. Hal lainnya
yang ditemukan adalah listrik, magnet, siklus air dan lainnya.
Socrates juga
menjelaskan mengenai fenomena alam dan bagaimana terjadinya alam dan bgaimana
terjadinya fenomena atmosfer.
Kimia Yunano
mempunyai teori atom dan selanjutnya Thales meneliti air. Anaximenes menelaah
udara, helicratus meneliti api sebagai sumber substansial bumi.
Empedocles
menambahkan bahwa bumi terkombnasi oleh unsur elemen yang bekerja sama dengan
cinta dan kekejaman. Teori ini yang dikembangkan Aristoteles,dia juga ikut mengkritik
model atom Leocippus dan Democritus.
Obat-obatan dan psikologi
Obat-obatan,
memegang peranan penting selama 1500 tahun. Penemuan ini telah ada sebelum
Hipocrates mengembangkannya. Dan
di Alexandria telah terkumpul 20.000 teks halaman masalah psikologi
Pada zaman
Yunani kuno ini ada banyak macam perkembangan dan banyak pula ilmuwan yang
mengembangkannya. Hal tersebut menggambarkan, betapa penuh misterinya dunia
seisinya ini. Meskipun, beberapa teori zaman ini sebagagian terbantahkan dan
terpatahkan namun, tetap saja beberapa ilmu yang banyak lainnya tetap sebagai
dasar ilmu-ilmu danpenelitian lain. Masa Yunani telah ter;ebih dahulu berlalu,
akankah berlalu tanpa arti? Inilah tantangan generasi muda dan ilmuwan untuk
tetap berinovasi, berkreasi, bercipta, rasa, karsa untuk sebuah kemauan ilmu
denagn logika yang berasional dan berbudaya.
TAMBAHAN :
·
Pada zaman prasejarah, manusia
menganggap bumi itu datar, luas.
·
Pada zaman mesir kuno, para astronom
belum membicarakan mengenai bentuk bumi itu seperti apa.
·
Yang pertama kali mengemukakan teori
bahwa bumi itu bulat adalah Phytagoras, karena berdasarkan
perkembangan ilmu ukur.
·
Meskipun kebanyakan orang mengatakan
bahwa Phytagoras
yang pertama kali mengemukakan
bahwa
bumi itu bulat, namun sebenarnya Parmenides lah yang pertama kali
mencetuskannya.
·
Teori menurut Einstein, bahwa bumi itu tidak terlalu bulat
tapi oval (pepat di ujungnya). Teori ini merupakan teori modern.
·
Sebenarnya perkembangan ilmu di Yunani
tidak lebih unggul dari Mesir, karena semuanya itu memiliki kelebihan di
masing-masing bidang. Selain itu, pada zaman Mesir penemuan itu belum dicatat
atau diarsipkan. Pada zaman Yunani lah mulai dilakukan pendataan, sehingga
masyarakat sekarang lebih mengenal perkembangan ilmu dari Yunani.
·
Thales: saudagar asal Yunani yang sering
berlayar ke Mesir. Ia mempelajari ilmu ukur yang kemudian dibawanya ke Yunani.
Ia bisa membuat piramida dengan bayangannya.
Thales
lebih dikenal saat terjadinya gerhana Matahari
·
Tycho Brahe (lahir di Knudstrup, Denmark, 14 Desember
1546 – meninggal
di Praha, Bohemia (sekarang
Ceko), 24 Oktober
1601 pada umur 54
tahun) adalah seorang bangsawan Denmark yang terkenal sebagai astronom/astrolog
(kedua bidang ini belum dibedakan waktu itu) dan alkimiawan. Ia
memiliki sebuah observatorium yang dinamai Uraniborg, di Pulau Hven, di Selat Øresund yang
menjadi "lembaga penelitian"
awalnya.
Tycho adalah
astronom pengamat paling menonjol di zaman pra-teleskop. Akurasi pengamatannya
pada posisi bintang
dan planet tak
tertandingi pada zaman itu.
Untuk penerbitan
karyanya, Tycho memiliki mesin cetak dan pabrik kertas. Asistennya
yang paling terkenal adalah Johannes
Kepler. Setelah kematiannya, catatan-catatannya mengenai gerak Planet Mars membuat Kepler
menemukan tiga hukum pergerakan planet yang menyokong teori heliosentris.
·
Johannes Kepler (27 Desember
1571 – 15 November
1630), seorang tokoh
penting dalam revolusi ilmiah, adalah seorang astronom Jerman, matematikawan
dan astrolog. Dia paling dikenal
melalui hukum gerakan planetnya. Dia kadang
dirujuk sebagai "astrofisikawan teoretikal
pertama", meski Carl Sagan juga memanggilnya sebagai ahli astrologi
ilmiah terakhir.
Orang Eropa abad ke-16
sangat mengagumi komet. Maka, pada suatu malam, sewaktu sebuah komet yang
dipopulerkan oleh astronom Denmark Tycho Brahe terlihat di langit, Katharina Kepler
membangunkan putranya, Johannes, yang berusia enam tahun untuk menyaksikan
komet itu. Lebih dari 20 tahun kemudian, sewaktu Brahe meninggal, siapakah yang
dilantik Kaisar Rudolf II untuk
menggantikan jabatan Barahe sebagai matematikawan kekaisaran? Pada usia 29
tahun, Johannes Kepler menjadi matematikawan kekaisaran untuk Kaisar Romawi
Suci, beserta ahli astrologi kerajaan Jendral Wallenstein,
suatu jabatan yang ia pegang hingga akhir hayatnya. Kepler juga seorang profesor
matematika di Universitas Graz. Karier Kepler juga bersamaan dengan
karier Galileo Galilei. Pada awal kariernya, Kepler adalah
asisten Tycho
Brahe.
Kepler
sangat dihargai bukan hanya dalam bidang matematika. Ia menjadi sangat terkenal
di bidang optik dan astronomi. Kepler, meski perawakannya kecil, memiliki
kecerdasan yang memukau dan juga kepribadian yang gigih. Ia didiskriminasi
sewaktu tidak mau pindah agama ke Katolik Roma, sekalipun di bawah tekanan
hebat.
Hukum Kepler tentang Gerakan Planet
Pada tahun
1609, Kepler menerbitkan buku New Astronomy (Astronmi Baru), yang diakui
sebagai buku astronomi modern yang pertama dan salah satu buku terpenting yang
pernah ditulis tentang subjek itu. Mahakarya ini memuat dua hukum Kepler yang
pertama tentang gerakan planet. Hukumnya yang ketiga diterbitkan dalam buku Harmonies
of the World (Keharmonisan Dunia) pada tahun 1619, sewaktu ia tinggal di
Linz, Austria. Tiga hukum ini mendefinisikan dasar-dasar gerakan planet: bentuk
orbit planet yang mengitari matahari, kecepatan gerakan planet, dan hubungan
antara jarak sebuah planet dari matahari dan waktu yang dibutuhkan untuk
menyelesaikan satu putaran.
Bagaimana
reaksi para astronom rekan-rekan Kepler? Mereka tidak memahami betapa
pentingnya hukum Kepler itu. Bahkan ada yang sama sekali tidak percaya. Mungkin
mereka tidak dapat sepenuhnya dipersalahkan. Kepler telah menyelubungi karyanya
dengan suatu prosa Latin yang sulit dipahami laksana lapisan awan tebal yang
menyelubungi Venus yang nyaris tak tertembus. Tetapi, seraya waktu berlalu,
hukum-hukum Kepler akhirnya diakui. Kira-kira 70 tahun kemudian, Isaac Newton
menggunakan karya Kepler sebagai dasar untuk hukumnya tentang gerakan dan
gravitasi. Dewasa ini, Kepler diakui sebagai salah satu ilmuwan terbesar
sepanjang masa—tokoh yang turut menyeret astronomi keluar dari Abad Pertengahan
ke zaman modern. “
Intoleransi keagamaan sangat memuakkan bagi Kepler, yang yakin bahwa
keharmonisan di antara planet-planet seharusnya terdapat juga di antara umat
manusia”
DAFTAR
PUSTAKA
Anggims. 9 September
2009. Perkembangan Ilmu Pengetahuan
Yunani Kuno. http://anggims.blogspot.com/2009/09/perkembangan-ilmu-pengetahuan-yunani.html. (diakses tanggal 15 Maret 2012).
Fadeli, M.
Khoirul. 14 Maret 2012. Ilmu Pengetahuan
dan Perkembangannya. http://blog.uin-malang.ac.id/fadeli/2012/03/14/ilmu-pengetahuan-dan-perkembangannya. (diakses tanggal 15 Maret 2012).
Ayief. 3 September 2011. Perkembangan Ilmu dari Masa ke Masa.
http://id.shvoong.com/humanities/history/2207999-perkembangan-ilmu-dari-masa-ke/#ixzz1oM1pvTPo. (diakses tanggal 8 Maret 2012).
Sains di Yunani. 11 Mei 2008. http://www.budakfisika.net/2008/11/sains-di-yunani.html (diakses tanggal 8 Maret 2012).
Zamzawi, M. Shuban. 11
November 2011. Sejarah Perkembangan Ilmu
Pengetahuan. http://msubhanzamzami.wordpress.com/2010/11/11/sejarah-perkembangan-ilmu-pengetahuan. (diakses tanggal 15 Maret 2012).
No comments:
Post a Comment