LAPORAN PENDAHULUAN
I.
Identitas Praktikan
Nama : Muhammad Haris
NIM :
09071001022
Fakultas :
Ilmu Komputer
Jurusan :
Sistem Komputer
Kelompok :
V
II.
Judul Percobaan : Mikroskop (C4)
III. Tujuan Percobaan
1.
Mampu menera
mikroskop dengan bermacam-macam kombinasi objektif.
2.
Mampu
melakukan pengukuran benda atau partikel berukuran kecil.
IV. Alat dan Bahan
1.
Mikroskop yang
dilengkapi dengan tiga ukuran lensa objektif, lensa okuler dan cakram
mikroskop.
Fungsi :
·
Sebagai alat
utama dalam percobaan.
·
Mengamati benda-benda yang sangat
kecil yang tidak dapat dilihat dengan mata telanjang.
2.
Kaca Objektif
Fungsi :
sebagai tempat meletakkan objek yang
akan diamati.
3.
Kaca Preparat
Fungsi :
sebagai
penutup objek yang akan diamati.
4.
Preparat
Fungsi :
sebagai
objek yang akan diamati.
V. Dasar Teori
Apabila dibuka objektif A diletakkan
suatu benda atau partikel yang ukurannya
diketahui maka pada okuler B dapat dilihat bayangan benda itu. Besar bayangan dapat diukur dengan melihat
besarnya lensa okuler dan objektif, dimana benda
yang akan diperbesar ukurannya dilihat pada cakram objektif yang besarnya
adalah X. Perbesaran mikroskop dengan kombinasi objektif A dengan okuler B
dinyatakan dengan persamaan :
P
= X. ( A . B )
Dimana :
A = lensa objektif
B = lensa okuler
X = besarnya cakram objektif
P = perbesaran bayangan
Mikroskop adalah
alat untuk mengamati benda-benda renik mikroskop terdiri dari dua lensa konvergen (-).
·
Lensa objektif
membentuk bayangan pertama yang nyata, diperbesar di belakang dan merupakan
benda bagi lensa okuler.
·
Lensa okuler
membuat bayangan akhir yang maya di depan okuler dengan jarak jangkau titik
dengan titik jauh mata.
Mikroskop dapat dibedakan menjadi :
a.
Mikroskop
majemuk
b.
Mikroskop
ultra
c.
Mikroskop
elektron
d.
Mikroskop
Majemuk
Dalam prinsipnya mikroskop majemuk
terdiri atas (kanta) objektor dan (kanta) okuler yang kedua kanta positif dan
majemuk. Bayangan benda yang terjadi oleh objektif ditinjau dengan elektron
sebanyak lup atau diproyeksikan pada tabir atau film dengan lup.
Perbesaran
objektif oleh lensa objektif :
P = t’/t =F/F
Perbesaran
okuler adalah :
P = 25/F
Perbesaran
mikroskop adalah :
P = P x P
= 25 . ∆
F.F
Dimana : ∆ = Jarak fokus kedua objektif sampai fokus pertama okuler yang dinamakan panjang tabung optik.
Mikroskop dilengkapi dengan lampu, cermin, dan kondensator untuk memusatkan cahaya pada benda. Kondensator dapat berupa kanta atau cermin. Perbesaran yang besar saja tidak cukup untuk mikroskop majemuk akan tetapi diperlukan juga jarak pisah dengan rumus :



d λ λ
dimana :
A =
angka tiap = NA = Numerial Aparture = riak gelombang dalam hampa
N = angka bias zat inarsi antara benda dan objektif
λ = riak gelombang dalam zat inarsi
u = setengah sudut puncak kerucut cahaya masuk mikroskop
b. Mikroskop Ultra
Mikroskop ultra ditemukan oleh
Ziendentoph dan Zsiqmondv pada tahun
1903. alat ini didasarkan efek Tyndall yaitu hamburan cahaya ke samping oleh
butir koloid. Dalam suatu berkas sinar yang masuk ke dalam kamar yang gelap
akan terlihat debu-debu yang bertebaran. Ziendantoph davnb Zsiqmondv memusatkan
sinar dengan kondensator kanta pada larutan koloid dari samping sehingga sinar
penerang yidak dapat masuk ke dalam mikroskop dan butir-butir koloid terlihat
sebagi titik-titik terang dalam larutan yang gelap. Bayangan yang sebenarnya
sebagai titik tetapi hanya bayangan difraksinya saja.
c.
Mikroskop
Elektron
Untuk melihat benda-benda yang lebih kecil perlu direaksikan sinar yang
lebih kecil. Sinar X yang mempunyai panjang gelombang yaitu 0,1 nm kebawah
namun sukar dibuatkan kanta bagi sinar sinar X yang angka biasnya negatif.
Untuk itu yang dapat dipakai untuk sebuah mikroskop elektron karena dapat
dipusatkan dengan kanta medan magnet atau medan listrik dibandingkan dengan
mikroskop cahaya, mikroskop elektron
mempunyai persamaan dan perbedaan .
Pada mikroskop cahaya dipakai sinar dari lampu dan pada mikroskop
elektron dipakai sinar elektron dari bedil elektron yang terdiri dari katoda
pijar k dan anoda berlubang A. Pada kedua jenis mikroskop kondensor merupakan
pemusatan sinar pada benda B. Objektif membentuk bayangan nyata diperbesar dari
B dan diperbesar oleh okuler dan diproyeksikan pada tabir.
Kanta pada mikroskop elektron adalah kanta magnet yaitu kumparan arus
dalam bungkusan bahan feromagnet yang bercelah. Mikroskop elektron lebih rumit
daripada mikroskop elektron cahaya yaitu diperlukannya beda potensial dan hampa
yang tinggi karena sinar elektron tidak boleh menabrak molekul udara. Benda
diletakkan pada selaput tipis polodeon atau formuar yang dapat ditembus sinar
elektron.
Lensa merupakan benda beniry yang dibatasi oleh dua permukaannya
merupakan bidang lengkung. Lensa tipis adalah lensa yang ketebalannya dapat
diabaikan.
Lensa terdiri atas dua jenis :
I.
Lensa
cembung (konveks)
II.
Lensa
cekung (konkaf)
Lensa cembung memiliki bagian tengah
yang lebih tebal daripada bagian terpinya. Lensa ini bersifat mengumpulkan sinar sehingga disebut juga lensa
konvergen. Sedangkan lensa cekung memiliki bagian tengah yang lebih tipis
daripada bagian tepinya. Karena lensa ini bersifat memencarkan cahaya maka
disebut lensa divergen.Permukaan yang membatasi lensa tidak selalu merupakan
pasangan-pasangan yang cetengkup, namun bidang-bidang lengkupnya selalu
merupakan bagian dari lingkaran.Perbesaran anguler sebuah lup, ternyata memiliki
batas maksimum. Jika f (fokus) diperkecil terus-menerus untuk memperoleh
perbesaran anguler yang lebih besar, akan terjadi cacat bayangan sehingga
bayangan menjadi kabur. Bayangan hanya hanya tampak jelas apabila perbesaran
anguler tidak lebih dari 20 kali. Padahal untuk mengamati benda-benda yang
sangat kecil seringkali diperlukan perbesaran yang tinggi hingga ratusan kali.
Untuk itulah diperlukan mikroskop.
Bayangan akhir yang dibentuk mikroskop
pada umumnya bersifat :
·
Diperbesar
·
Maya
·
Terbalik
Ciri-ciri mikroskop adalah :
1.
Memiliki dua
buah lensa positif, yaitu lensa objektif dan lensa okuler.
2.
Lensa objektif
terletak dekat objek dan lensa okuler terletak dekat mata
3.
Jarak fokus
objektif lebih kecil daripada jarak fokus okuler
Benda yang akan diamati diletakkan diruang dua buah dan lensa objektif
VI. Prosedur Percobaan
1.
Pasanglah
mikroskop dengan kombinasi okuler A (10x) dan objektif (3,2x).
2.
Tempatkan
benda/preparat diatas kaca objektif jika bias tutup dengan kaca preparat.
Kemudian letakkan kaca objektif diatas meja objektif.
3.
Letakkan plat
kaca dimuka objektif sebagai tempat benda yang akan diperbesar ukuran
bayangannya.
4.
Lakukan
percobaan beberapa kali.
5.
Ulangi dengan
menggunakan kombinasi lensa objektif (10 kali dan 40 kali) dengan menggunakan
lensa yang sama.
VII. Data Hasil Percobaan
Okuler |
Objektif
|
XA |
XB |
X
|
TA
|
TB
|
T
|
P
|
10x
|
3,2x
|
1. 87,4
2. 87,3
|
91,8
91,9
|
4,4
4,6
|
87,4
87,3
|
87,3
87,4
|
0,1
0,1
|
140,8
147,2
|
10x
|
10x
|
1.89,9
2.88,9
|
90,4
90,3
|
0,5
1,4
|
89,9
88,9
|
88,8
88,8
|
1,1
0,1
|
16
44,8
|
10x
|
40x
|
1.
89,3
2.
89,4
|
89,7
89,7
|
0,4
0,3
|
89,3
89,4
|
89,2
89,1
|
0,1
0,3
|
160
120
|
VIII. Pengolahan Data
I. okuler 10x, objektif 3,2x
XA
NO
|
XA
|
![]()
│XA-XA│
|
1.
2.
|
87,4
87,3
|
0,05
0,05
|
∑
|
174,7
|
0,1
|
XA = ∑XA/n
= 174,7/2
= 87,35
∆XA =
|
│XA-XA│/n
= 0,05
Nilai Terbaik = XA +∆XA
= 87,35
+ 0,05
Kesalahan Absolut = +∆XA
= +0,05
Kesalahan Relatif = ∆XA/XA X 100%
= 0,05/87,35
x 100%
= 0,06%
XB
NO
|
XB
|
![]()
│XB-XB│
|
1.
2.
|
91,8
91,9
|
0,05
0,05
|
∑
|
183,7
|
0,1
|
XB = ∑XB/n
= 183,7/2
= 91,85
∆XB =
|
│XB-XB│/n
=0,05
Nilai Terbaik = XB +∆XB
= 91,85
+ 0,05
Kesalahan Absolut = +∆XB
= +0,05
Kesalahan Relatif = ∆XB/XB X 100%
= 0,05/91,85
x 100%
= 0,05%
TA
NO
|
TA
|
![]()
│TA-TA│
|
1.
2.
|
87,4
87,3
|
0,05
0,05
|
∑
|
174,7
|
0,1
|
TA = ∑TA/n
= 174,7/2
= 87,35
∆TA =
|
│TA-TA│/n
= 0,05
Nilai Terbaik = TA +∆TA
= 87,35 + 0,05
Kesalahan Absolut = +∆TA
= +0,05
Kesalahan Relatif = ∆TA/TA X 100%
= 0,05/87,35
x 100%
= 0,06%
TB
NO
|
TB
|
![]()
│TB-TB│
|
1.
2.
|
87,3
87,4
|
0,05
0,05
|
∑
|
174,7
|
0,1
|
TB = ∑TB/n
= 174,7/2
= 87,35
∆TB =
|
│TB-TB│/n
= 0,05
Nilai Terbaik = TB+∆TB
= 87,35
+ 0,05
Kesalahan Absolut = +∆TB
= +0,05
Kesalahan Relatif = ∆TB/TB
X 100%
= 0,05/87,35
x 100%
= 0,06%
II. okuler 10x, objektif 10x
XA
NO
|
XA
|
![]()
│XA-XA│
|
1.
2.
|
89,9
88,9
|
0,5
0,5
|
∑
|
178,8
|
1
|
XA = ∑XA/n
= 178,8/2
= 89,4
∆XA =
|
│XA-XA│/n
= 0,5
Nilai Terbaik = XA + ∆XA
= 89,4+ 0,5
Kesalahan Absolut = +∆XA
= +0,5
Kesalahan Relatif = ∆XA/XA X 100%
= 0,5/89,4
x 100%
= 0,55%
XB
NO
|
XB
|
![]()
│XB-XB│
|
1.
2.
|
90,4
90,3
|
0,05
0,05
|
∑
|
180,7
|
0,1
|
XB = ∑XB/n
= 180,7/2
= 90,35
∆XB =
|
│XB-XB│/n
= 0,05
Nilai Terbaik = XB +∆XB
= 90,35
+ 0,05
Kesalahan Absolut = +∆XB
= +0,05
Kesalahan Relatif = ∆XB/XB X 100%
= 0,05/90,35
x 100%
= 0,05%
TA
NO
|
TA
|
![]()
│TA-TA│
|
1.
2.
|
89,9
88,9
|
0,5
0,5
|
∑
|
178,8
|
1
|
TA = ∑TA/n
= 178,8/2
= 89,4
∆TA =
|
│TA-TA│/n
= 0,5
Nilai Terbaik = TA +∆TA
=
89,4 + 0,5
Kesalahan Absolut = +∆TA
= +0,5
Kesalahan Relatif = ∆TA/TA
X 100%
= 0,5/89,4 x 100%
= 0,55%
TB
NO
|
TB
|
![]()
│TB-TB│
|
1.
2.
|
88,8
88.8
|
0
0
|
∑
|
177,6
|
0
|
TB = ∑TB/n
= 177,6/2
= 88,8
∆TB =
|
│TB-TB│/n
= 0
Nilai Terbaik = TB +∆TB
=
88,8 + 0
Kesalahan Absolut = +∆TB
= +0
Kesalahan Relatif = ∆TB/TB
X 100%
= 0/88,8 x 100%
= 0%
III.
okuler 10x,
objektif 40x
XA
NO
|
XA
|
![]()
│XA-XA│
|
1.
2.
|
89,3
89,4
|
0,05
0,05
|
∑
|
178,7
|
0,1
|
XA = ∑XA/n
= 178,7/2
= 89,35
∆XA =
|
│XA-XA│/n
= 0,05
Nilai Terbaik = XA +∆XA
=
89,35 + 0,05
Kesalahan Absolut = + ∆XA
= +0,05
Kesalahan Relatif = ∆XA/XA
X 100%
= 0,05/89,35 x 100%
= 0,05%
XB
NO
|
XB
|
![]()
│XB-XB│
|
1.
2.
|
89,7
89,7
|
0
0
|
∑
|
179,4
|
0
|
XB
= ∑XB/n
= 179,4/2
= 89,7
∆XB =
|
│XB-XB│/n
= 0
Nilai Terbaik = XB +∆XB
=
89,7 + 0
Kesalahan Absolut = +∆XB
=
+0
Kesalahan Relatif = ∆XB/XBX
100%
=
0/89,7 x 100%
= 0%
TA
NO
|
TA
|
![]()
│TA-TA│
|
1.
2.
|
89,3
89,4
|
0,05
0,05
|
∑
|
178,7
|
0,1
|
TA
= ∑TA/n
= 178,7/2
= 89,35
∆TA =
|
│TA-TA│/n
= 0,05
Nilai Terbaik = TA +∆TA
=
89,35 + 0,05
Kesalahan Absolut = + ∆TA
= +0,05
Kesalahan Relatif = ∆TA/TA
X 100%
= 0,05/89,35 x 100%
= 0,05%
TB
NO
|
TB
|
![]()
│TB-TB│
|
1.
2.
|
89,2
89,1
|
0,05
0,05
|
∑
|
178,3
|
0,1
|
TB
= ∑TB/n
= 178,3/2
= 89,15
∆TB =
|
│TB-TB│/n
= 0,05
Nilai Terbaik = TB + ∆TB
=
89,15 + 0,05
Kesalahan Absolut = +∆TB
= +0,05
Kesalahan Relatif = ∆TB/TB
X 100%
= 0,05/89,15x 100%
= 0,06%
IX. Pertanyaan dan Jawaban
1.
Gambarkan
bagaimana bentuk penampang benda atau preparat yang saudara amati?
![]() |
![]() |
![]() |
|||
2.
Jelaskan
tahap-tahap di dalam mencari bayangan benda pada saat percobaan mikroskop?
a.
Nyalakan
mikroskop dan atur intensitas cahaya sesuai kebutuhan.
b.
Atur kombinasi
lensa okuler dengan perbesaran 10x dan objektif 3,2x.
c.
Letakkan
preparat diatas kaca objektif dengan bantuan air supaya lengket dan tutup dengan
kaca preparat.
d.
Letakkan
diatas kaca objektif dan letakkan plot kaca dimuka objektif.
e.
Atur sakram
mikroskop supaya benda yang diamati bis aterlihat jelas.
f.
Proses
pengukuran benda dengan cara memutar kedepan atau kebelakang yang masing-masing
untuk skala vertikal dan horizontal ke sebelah kiri mikroskop.
g.
Pengukuaran
untuk yang tidak tepat dengan angka langsung misal 91,...untuk mencari nilai
dibelakang koma maka garis skala horizontal yang lurus dihitung dari awal
misalnya garis yang bertemu dengan angka 4 berarti 91,4. Lakukan dengan
perbesaran objektif 10x dan 40x.
X. Analisa Percobaan
Percobaan ini adalah percobaan
Mikroskop (C4). Pada percobaan ini memiliki tujuan untuk menera mikroskop
sekaligus dapat melakukan pengukuran benda-benda atau partikel yang berukuran
kecil.
Pada percobaan ini dapat
diketahui bahwa perbesaran benda tergantung pada kombinasi lensa yang digunakan
dalam hal ini adalah lensa okulert dan lensa objektif yang digunakan. Lensa objektif adalah lensa yang dekat dengan objek,
sedangkan lensa okuler adalah lensa yang dekat dengan mata.
Semakin besar kombinasi lensa
yang dipakai maka hasil dari perbesaran benda yang didapatkan akan semakin
besar pula. Terdapat bermacam-macam
kombinasi ukuran lensa misalnya lensa objektif 3,2x, 10x dan ada juga yang
mencapai 40x. Besar bayangan yang dihasilkan dapat diukur dengan cara
mengalikan kombinasi lensa okuler dengan kombinasi lensa objektif dan dengan
besarnya cakram mikroskop, secara matematis dapat dituliskan :
P = X. ( A . B )
Dimana
:
A =
lensa objektif
B = lensa okuler
X = besarnya cakram objektif
P = perbesaran bayangan
XI. Kesimpulan
1.
Mikroskop
adalah alat optik yang digunakan untuk melihat benda atau partikel yang
berukuran kecil.
2.
Mikroskop
terdiri dari 2 lensa :
a.
Lensa objektif
yaitu lensa yang dekat dengan objek.
b.
Lensa okuler
yaitu lensa yang dekat dengan mata.
3.
Bayangan akhir
yang dibentuk mikroskop bersifat :
a.
Maya
b.
Terbalik
c.
Diperbesar
4.
Semakin besar
kombinasi ukuran lensa yang digunakan dalam hal ini lensa okuler dan lensa
objektif yang digunakan, maka semakin besar pula bayangan yang dihasilkan.
5.
Untuk
menghitung perbesaran bayangan digunakan rumus :
P = X. ( A . B )
Dimana :
A = lensa objektif
B = lensa
okuler
X
= besarnya cakram objektif
P = perbesaran bayangan
XII. Sumber Kesalahan
1.
Kurang cermat
dalam mencari posisi benda dengan tepat terhadap benda yang diamati
2.
Kurang teliti
dalam pembulatan angka
3.
Kurang teliti
dalam membaca skala
4.
Alat-alat
praktikum yang sudah agak rusak atau bisa dikatakan kalibrasi kesalahan alat
sudah besar.
bolavita, agen judi bola online, Judi bola, agen bola, bandar bola, casino online, agen casino, situs taruhan, judi online, agen bola terpercaya, judi bola online, Situs Judi Bola, taruhan bola, bola online
ReplyDeletebolavita merupakan Situs Judi bola online terpercaya di Indonesia. Bandar Bola resmi dan Agen Bola online dengan pasaran terlengkap dan pelayanan yang ramah selama 24 Jam
Boss Juga Bisa Kirim Via :
Wechat : Bolavita
WA : +6281377055002
Line : cs_bolavita
BBM PIN : BOLAVITA ( Huruf Semua )